Pasar Besar Kepanjen Malang, berdiri 1926

Berada di jalan raya Malang-Blitar, tepatnya di jl. Pahlawan Kepanjen

Pasar Besar Kepanjen sebelah Timur

Digunakan sebagai tempat terminal penumpang Oplet, pasar hewan dan pom bensin.

KARNAFAL MALAM TEMA SENI-BUDAYA

Dalam memperingati HUT RI KE 7 TAHUN 1952.

Kantor polisi 1948

Kantor Polisi berubah fungsi sekarang menjadi KANTOR KELURAHAN KEPANJEN

Tampilkan postingan dengan label PRASASTI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PRASASTI. Tampilkan semua postingan

PRASASTI BALAWI

PRASASTI BALAWI diterbitkan atas perintah 
Sri Maharaja Nararyya Sanggramawijaya
(Raden Wijaya) 
tahun 1305 Masehi



Prasasti Balawi ini dikeluarkan pada tanggal 15 paro gelap (krsnapaksa), bulan Waisaka tahun 1227 Saka, yang bertepatan dengan tanggal 24 Mei 1305 Masehi. Prasasti ini diterbitkan atas perintah Sri Maharaja Nararyya Sanggramawijaya, sosok yang lebih dikenal sebagai Raden Wijaya, pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Majapahit. Sebagai salah satu peninggalan penting dari awal berdirinya Majapahit, Prasasti Balawi tidak hanya mencerminkan kebesaran sang raja, tetapi juga memberikan sekilas gambaran tentang politik, budaya, dan kehidupan masyarakat pada masa itu.

Prasasti Balawi diterbitkan atas permohonan masyarakat Desa Balawi, dengan dukungan dari pejabat Rakryan Apatih dan Sang Wirapati sebagai perantara. Dahulu, Desa Balawi pernah menerima anugerah tanah sima dari almarhum Sri Harsawijaya, namun anugerah ini belum dikuatkan secara resmi melalui prasasti. Penerbitan Prasasti Balawi ini pun menjadi penegasan penting, memberikan kepastian hukum dan pengakuan resmi atas hak tanah bagi masyarakat Desa Balawi, sekaligus melindungi mereka dari klaim pihak lain di masa mendatang.

Maka, Sri Maharaja Nararyya Sanggramawijaya menyetujui permohonan tersebut dan mengukuhkan anugerah dari Sri Harsawijaya kepada warga Desa Balawi. Sebagai bukti resmi, ia menerbitkan prasasti tembaga yang saat ini menjadi bagian koleksi berharga di Museum Nasional Indonesia. Prasasti ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumen hukum, tetapi juga sebagai saksi sejarah yang mencerminkan kebijaksanaan dan perhatian penguasa Majapahit terhadap rakyatnya.

Tokoh Sri Harsawijaya disebut dalam Prasasti Mula-Malurung (1177 Saka) sebagai keponakan (pahulun) dari Sri Maharaja Nararyya Sminingrat, atau yang lebih dikenal sebagai Wisnuwardana, Raja Kerajaan Tumapel. Selain itu, ia juga adalah saudara sepupu Sri Krtanegara, raja terakhir Tumapel sekaligus mertua Raden Wijaya. Pada tahun 1177 Saka, Sri Harsawijaya menjabat sebagai Raja Janggala, yang berstatus sebagai kerajaan bawahan di bawah hegemoni Tumapel. Keterkaitannya dengan dua raja besar ini menempatkan Sri Harsawijaya sebagai sosok penting dalam jalur kekuasaan yang nantinya membuka jalan bagi berdirinya Kerajaan Majapahit di bawah Raden Wijaya.

Ya, sangat mungkin ada hubungan antara Raden Wijaya dan Sri Harsawijaya, baik secara politis maupun keluarga. Dari informasi yang ada, Raden Wijaya adalah menantu dari Sri Krtanegara, yang merupakan sepupu Sri Harsawijaya. Ini menempatkan Raden Wijaya dalam ikatan keluarga besar Wangsa Rajasa, yang mencakup para penguasa Tumapel (Singasari) dan Janggala.

Secara politik, hubungan antara mereka pun kuat. Sebagai penerus garis Wangsa Rajasa, Raden Wijaya mendapat legitimasi yang lebih besar saat mendirikan Majapahit, karena ia mewarisi ikatan darah dengan penguasa-penguasa sebelumnya, termasuk Sri Harsawijaya. Hal ini mungkin juga mempermudah proses pewarisan anugerah tanah sima di Desa Balawi, yang awalnya diberikan oleh Sri Harsawijaya dan kemudian dikukuhkan oleh Raden Wijaya.

Desa Balawi, yang disebutkan dalam Prasasti Balawi, diperkirakan berada di wilayah bekas Kerajaan Janggala. Lokasi tepatnya memang masih menjadi misteri karena wilayah Janggala mencakup area yang luas, khususnya di sekitar kawasan timur dari Kerajaan Tumapel (Singasari), termasuk daerah Sidoarjo, Mojokerto, dan sebagian Gresik di Jawa Timur.

Berdasarkan toponim dan sejarah yang ada, para ahli sering mengaitkan wilayah ini dengan beberapa desa di kawasan Mojokerto atau Sidoarjo, tempat banyak ditemukan peninggalan arkeologis dari era Janggala. Meski demikian, tanpa bukti arkeologis yang lebih jelas, sulit menentukan posisi Desa Balawi secara pasti. Jika ada penelitian lanjutan yang menemukan bukti fisik atau prasasti terkait di area ini, kita mungkin bisa lebih yakin akan lokasinya.


Prasasti Belanda tentang Bangunan SYPHON METRO


Apa yang dimaksud dengan prasasti...?

Prasasti adalah piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama.
Di antara berbagai sumber sejarah kuno Indonesia, seperti naskah, penjelasan bangunan dan berita asing, prasasti dianggap sumber terpenting karena mampu memberikan kronologis suatu peristiwa.

Prasasti Belanda tentang Bangunan sungai molek terdapat di :
1. Di Kelurahan Kepanjen (Syphon Metro)
2. Di dusun Boro Kelurahan Ardirejo - Kepanjen (Dam Brantas) 

Prasasti Pabanolan-Tumpang, kisah akhir mojopahit di Malang



Prasasti Pabanolan memang menjadi salah satu bukti penting bahwa Kerajaan Majapahit masih berdiri pada tahun 1463 Saka, atau sekitar 1541 Masehi. Prasasti ini menyebutkan lokasi penulisannya, yaitu di sebuah tempat suci yang disebut San Hyan Baturpajaran di Wilwatikta (nama lain untuk Majapahit). Ungkapan ini, “telas sinurat ri san hyan baturpajaran ri wilwatikta,” memperkuat adanya aktivitas keagamaan atau administratif di wilayah suci Majapahit pada waktu tersebut.

Keberadaan Prasasti Pabanolan memberikan indikasi bahwa meskipun Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran pada abad ke-15, pengaruh dan kekuasaannya masih tetap ada hingga pertengahan abad ke-16. Hal ini juga menunjukkan bahwa Majapahit masih memiliki pusat-pusat suci dan pemerintahan yang berfungsi, mungkin dengan skala yang lebih kecil, di wilayah yang dikenal sebagai Wilwatikta.

Setelah masa Hayam Wuruk, Majapahit memang mengalami kemunduran tajam yang diperparah oleh konflik internal. Perang Paregreg, misalnya, menjadi salah satu konflik saudara yang melemahkan struktur kerajaan secara signifikan, memperburuk kondisi politik dan stabilitas ekonomi. Ketika tentara dari Keling menyerbu ibu kota pada tahun 1478, Majapahit kemungkinan sudah berada di ambang keruntuhan, baik secara militer maupun administratif. Serangan itu semakin mempercepat hilangnya kontrol Majapahit atas wilayah-wilayahnya dan meninggalkan Trowulan—yang disebut sebagai “Wilwatikta” dalam prasasti—sebagai wilayah yang hanya dihuni oleh sisa-sisa kebesaran masa lalu, bukan sebagai pusat kerajaan yang aktif.

Pada pertengahan abad ke-16, sebutan “Wilwatikta” dalam prasasti mungkin merujuk pada situs keramat atau simbolik di bekas ibu kota Majapahit, yang masih dikenang dan dihormati, tetapi tidak lagi memiliki peran politik signifikan.

Memang, dalam ramalan Jayabaya, era akhir Majapahit masuk ke dalam fase Kaliyuga yang dikenal sebagai Kaliwisaya atau jaman penuh fitnah, sebuah masa yang digambarkan penuh kekacauan, perpecahan, dan kejatuhan nilai-nilai moral. Kaliwisaya ini dimulai dengan peristiwa “Sirna Ilang Kertaning Bhumi” sengkalan atau kronogram yang berarti tahun 1400 Saka (1478 M), saat Majapahit disebutkan mengalami kehancuran akibat serangan dari pasukan luar. Setelah itu, masyarakat Nusantara dilanda konflik yang terus menerus, baik secara internal maupun eksternal.

Kaliwisaya sendiri terbagi menjadi tiga zaman: Paeka, Ambondan, dan Aningkal. Periode ini mencakup waktu yang panjang, dari runtuhnya Majapahit hingga datangnya berbagai kekuatan kolonial, mulai dari Portugis, Spanyol, hingga Belanda. Selama periode ini, Nusantara mengalami banyak perang saudara, konflik antar kerajaan, serta tekanan dari kekuatan kolonial yang membawa berbagai fitnah, perpecahan, dan eksploitasi terhadap sumber daya dan manusia Nusantara.

Ramalan Jayabaya ini dapat dilihat sebagai cara untuk menggambarkan realitas pahit yang dihadapi masyarakat pada masa itu, di mana keutuhan dan kemakmuran Majapahit yang dahulu pernah mengakar di Nusantara seakan sirna, digantikan oleh era yang penuh dengan intrik, konflik, dan kekuasaan asing. 

Banjir bandang dari muara Sungai Brantas di awal abad ke-15 M memang bisa menjadi penyebab utama melemahnya sendi-sendi ekonomi kota-kota besar yang bergantung pada aliran sungai tersebut. Banjir besar ini diperkirakan membawa lumpur, bebatuan, dan kayu besar yang menghancurkan infrastruktur, merusak lahan pertanian, dan menghancurkan perniagaan sepanjang aliran sungai. Dampak bencana ini kemungkinan besar juga mengurangi akses perdagangan dan suplai pangan, sehingga mempercepat penurunan ekonomi wilayah tersebut, termasuk kota-kota besar yang sebelumnya berperan penting sebagai pusat dagang di bawah hegemoni Majapahit.

Kerusakan yang diakibatkan oleh bencana alam ini kemungkinan turut melemahkan daya tahan Majapahit, yang saat itu juga sudah menghadapi masalah internal dan eksternal lainnya.


Prasasti Kudadu ditemukan di lereng Gunung Butak


Prasasti Kudadu ditemukan di lereng Gunung Butak yang masuk dalam jajaran Pegunungan Putri Tidur. Gunung Butak berada dalam wilayah perbatasan Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kalau ditinjau dari letak prasasti ini adalah letaknya dibalik gunung Kawi, gunung yang dekat dengan Kepanjen

Prasasti Kudadu bertarikh 1216 Çaka atau bertepatan dengan 11 September 1294 M, dengan menggunakan aksara Kawi Majapahit. Prasasti ini dipahatkan pada lempeng tembaga (tamra praśasti) yang dikeluarkan oleh Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardha Anantawikramottunggadewa.

Prasasti Kudadu atau yang dikenal juga dengan Prasasti (Gunung) Butak – sesuai dengan lokasi ditemukan prasasti – menyebutkan tentang pemberian anugerah raja Kertarajasa Jayawardhana kepada pejabat Desa Kudadu berupa penetapan Desa Kudadu sebagai sīma untuk dinikmati oleh pejabat Desa Kudadu dan keturunan-keturunannya sampai akhir zaman. Para pejabat Desa Kudadu itu mendapat anugerah demikian karena telah berjasa kepada raja sebelum dinobatkan menjadi raja dan masih bernama Narārya Saṃgrāmawijaya. Pada waktu itu, Saṃgrāmawijaya melarikan diri dengan dikejar-kejar oleh musuh, yaitu tentara Jayakatwang, yang telah membinasakan Raja Kertanegara.

Bagian sambadha dari prasasti Kudadu itu ditulis dengan panjang lebar sampai meliputi lebih dari tiga lempengan prasasti timbal balik. Menceriterakan dengan terperinci bagaimana Wijaya diperintahkan Raja Kertanegara untuk menghalau musuh yang telah menyerbu sampai ke Desa Jasun Wungkal, sampai ia terpaksa melarikan diri dan terkepung oleh musuh. Ia berlari terus sambil memberikan perlawanan, tetapi senantiasa kalah karena banyaknya musuh. Akhirnya ia sampai ke Desa Kudadu.

Ternyata kemudian bahwa para pejabat Desa Kudadu masih setia kepada Raja Kertanegara, karena mereka telah memberikan makan, minum dan tempat persembunyian pada Wijaya dan pengikut-pengikutnya, yang terdiri dari Lembu Sora, Ranggalawe, Nambi, Dangdi, Banyak Kapok, Pedang, Mahisa Pawagal, Pamandan, Gajah Pagon dan Wiragati. Kemudian para pejabat Desa Kudadu itu, yang dipimpin oleh kepala desanya yang bernama Macan Kuping, mengantarkan Wijaya sampai ke Rǝmbaṅ, untuk kemudian berlayar menyeberang ke Pulau Madura.

Prasasti Kemuning jarak melaui sungai Metro Ngadilangkung-Kepanjen sekitar 2 km keselatan


Prasasti Kranggan merupakan salah satu peninggalan purbakala yang ada di wilayah Kabupaten Malang, tepatnya di Dusun Kemuning, Desa Kranggan, Kecamatan Ngajum. Konon, benda bersejarah ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno.
Diperkirakan, prasasti ini sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang eksis sebelum Kerajaan Singhasari yang merupakan cikal-bakal wilayah Malang. Ahli sejarah memperkirakan, Prasasti Kranggan adalah peninggalan sebelum abad XI, tepatnya pada masa Raja Balitong berkuasa di Kerajaan Mataram kuno. Hal ini terlihat dari bahan prasasti yang terbuat dari batu andesit berbentuk segi empat.
Panjangnya sekitar satu meter, lebar setengah meter, ketebalan batu sekitar 15-20 sentimeter. Terdapat tulisan Jawa kuno melingkar dari depan, samping, dan belakang pada bagian atas batu. Menariknya, batu bersejarah ini ditempatkan di atas sebuah gundukan tanah setinggi lutut orang dewasa. Huruf Jawa kuno yang tertera di prasasti itu tidak sama dengan huruf pada zaman Kerajaan Singhasari. Maka tak heran, prasasti itu diperkirakan peninggalan sebelum abad XI pada masa Kerajaan Mataram kuno dikuasai Raja Balitong.
Prasasti Kranggan ini sendiri terletak di kompleks Padepokan Kemuning. Situs Kemuning ini ditemukan oleh seorang Belanda bernama F.D.K. Bosch pada Oktober 1916. Kala itu, Bosch yang berusaha membaca Prasasti Kranggan mendapat kesulitan lantaran batu itu sudah usang nyaris tak terbaca tulisannya. Hanya angka tahunnya saja yang dapat dibaca oleh Bosch, yaitu 1178 Saka (1256 M).
Jika ditelusuri lebih lanjut, tahun tersebut bertepatan dengan masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana dari kerajaan Singhasari. Konon, prasasti tersebut dikeluarkan oleh Rajamuda (Yuwaraja/Kumararaja) Kertanegara (anaknya). Karena selain prasasti, terdapat pula sebuah lingga dan yoni di kompleks situs Kemuning tersebut, diduga peninggalan purbakala ini dulunya merupakan bangunan suci agama Hindu.
Meski tak ada yang bisa menerjemahkannya, kemungkinan besar isi Prasasti Kranggan ini berkaitan dengan ‘Dharma Sima Swatantra’ (daerah tertentu yang bebas pajak). Sebutan itu terdapat pula dalam prasasti Mulamalurung yang satu tahun lebih awal dikeluarkan oleh raja Wisnuwardhana.
Isi prasasti Mulamalurung lempeng IV tahun 1177 Saka (1255 M) adalah “yang menandai (memulai) bangunan suci tanah perdikan di suatu tempat di ‘bumi sebelah timur Kawi,’ oleh yang melaksanakan perintah, yaitu sang apanji Samaka, patih dari raja Kertanegara.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Desa Kranggan, termasuk Dukuh Kemuning di dalamnya, masuk dalam distrik Sengguruh atau (Kawedanan Kepanjen), Afdeling Malang, Karesidenan Pasuruan.

Lingga dan Prasasti di desa Kemuning peninggalan sebelum kerajaan Tumapel


Selain Prasasti Kranggan, di situs tersebut terdapat pula bekas reruntuhan candi berbata merah, yoni yang lingganya sudah hilang dicuri, dan arca Lembu Nandi yang tersembunyi di bawah akar pohon beringin. Yoni yang disemen berbentuk segi empat, sementara pecahan hiasan candi di atas yoni dan tebaran fragmen batu bata merah besar menjadi tanda pernah berdiri bekas candi Hindu beraliran Sekte Siwa Siddhanta di area ini.
Menurut Mbah Salam (61) selaku Juru Pelihara situs Kemuning, tempat Prasasti Kranggan yang sekarang berdiri di atas gundukan tanah yang mirip dengan makam itu disebut “Petilasan Mbah Suko”. Sementara itu, di sebelah tempat tersebut terdapat pohon yang tidak terlalu besar yang disekat dengan pagar berwarna hijau dan batu bata pendek berukuran 1 x 1 meter disebut “Petilasan Mbah Mintorogo”.
Dari temuan tersebut, ditarik kesimpulan bahwa daerah Desa Kranggan memiliki fakta historis yang kuat sebagai desa kuno yang sudah dihuni oleh manusia pada masa sebelum Kerajaan Singhasari. Keberadaan situs dan bangunan suci bersama prasastinya di situs Kemuning, menunjukkan bahwa Desa Kranggan merupakan salah satu desa spesial sebagai daerah kekuasaan kerajaan tersebut. Pasalnya, tak mungkin pemerintah kerajaan mendirikan bangunan suci tanpa alasan yang jelas.

Prasasti Mula Malurung menggugurkan cerita Kitab Pararaton



Penemuan prasasti Mula Malurung memberikan pandangan lain yang berbeda dengan versi Pararaton yang selama ini dikenal mengenai sejarah Tumapel.

Kerajaan Tumapel disebutkan didirikan oleh Rajasa yang dijuluki "Bhatara Siwa", setelah menaklukkan Kerajaan Kadiri. Sepeninggalnya, kerajaan terpecah menjadi dua, Tumapel dipimpin Anusapati sedangkan Kerajaan Kadiri dipimpin Bhatara Parameswara (alias Mahisa Wonga Teleng). Parameswara digantikan oleh Guningbhaya, kemudian Tohjaya. Sementara itu, Anusapati digantikan oleh Seminingrat yang bergelar Wisnuwardhana. Prasasti Mula Malurung juga menyebutkan bahwa sepeninggal Tohjaya, Kerajaan Tumapel dan Kerajaan Kadiri dipersatukan kembali oleh Seminingrat. Kerajaan Kadiri kemudian menjadi kerajaan bawahan yang dipimpin oleh putranya, yaitu Kertanagara.

Pararaton dan Nagarakretagama menyebutkan adanya pemerintahan bersama antara Wisnuwardhana dan Narasingamurti. Dalam Pararaton disebutkan nama asli Narasingamurti adalah Mahisa Campaka.

Apabila kisah kudeta berdarah dalam Pararaton benar-benar terjadi, maka dapat dipahami maksud dari pemerintahan bersama ini adalah suatu upaya rekonsiliasi antara kedua kelompok yang bersaing. Wisnuwardhana merupakan cucu Tunggul Ametung sedangkan Narasingamurti adalah cucu Ken Arok.

Prasasti Manjusri berada di sebelah Arca Tribhuwanatunggadewi



Prasasti ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian depan dan belakang arca. Untuk tulisan yang tertera pada bagian depan arca, letaknya tepat berada di atas Manjusri. Ada tiga baris tulisan disana. Sedangkan di bagian belakang arca, terdapat tujuh baris tulisan.

Pada arca, Manjusri digambarkan sebagai seorang pemuda yang duduk bersila diatas teratai. Tangan kanannya memegang pedang yang diarahkan di belakang kepalanya. Pedang yang dibawanya memiliki makna untuk melawan kegelapan dan kepalsuan. Sedangkan tangan kiri membawa buku yang berisi ajaran tentang sepuluh laku utama atau paramita. Selain itu, juga ada kalung di lehernya dan empat arca kecil di sekitarnya yang merupakan replika dirinya sendiri.

Telah ada beberapa ahli yang telah menranskripsikan candi berangka tahun 1265 Saka yang tak lain jika dikonversi menjadi Masehi berarti sekitar 25 Januari 1343-14 Maret 1344 ini ke dalam bahasa Indonesia. Salah satunya oleh H. Kern yang dimuat dalam Tjandi Singasari (109) milik J.L.A. Brandes.

Tafsiran dari para ahli menyatakan bahwa Manjusri adalah Adityawarman. Saat itu, ia menjabat sebagai wreddha mantri dalam pemerintahan Tribhuwanatunggadewi. Jika ditelusur garis keturunannya melalui prasasti Kubur Rajo dan piagam Jawa Kuno Amoghapasa tahun 1286 M, diketahui masih ada hubungan keluarga yang dekat dengan Rajapatni. Juga alasan antara Adityawarman dan Rajapatni yang sama-sama beragama Budha.

Prasasti Manjusri ini berada di luar Negeri ditemukan, jaraknya 35 km dari Kepanjen



Prasasti Manjusri ini ditemukan di candi Jago, prasasti ini tak berada disana sekarang. Melainkan telah disimpan di Museum Ethnology, Berlin, Jerman. Di Indonesia, yang ada hanya duplikatnya saja. Tepatnya di Museum Nasional Jakarta.

Teks dalam prasasti tersebut mengatakan bahwa ‘Dalam kerajaan yang dikuasai oleh Ibu Yang Mulia Rajapatni maka Adityawarman itu, yang berasal dari keluarganya, yang berakal murni dan bertindak selaku menteri wreddaraja, telah mendirikan di pulau Jawa, di dalam Jinalayapura, sebuah candi yang ajaib dengan harapan agar dapat membimbing ibunya, ayahnya dan sahabatnya ke kenikmatan Nirwana.’

Prasasti Wurare dibuat Menghormati Raja Singosari Kertanegara


Prasasti kerajaan Singasari selanjutnya adalah prasasti Wurare. Prasasti Wurare dibuat untuk memperingati penobatan arca Mahaksobhya di sebuah tempat yang bernama Wurare. Manuskrip yang ada pada prasasti Wurare bertuliskan 1289 M dan dipahat pada sebuah arca yang melambangkan penghormatan pada Raja Kertanegara yang oleh keturunannya dianggap sudah mencapai derajat Jina atau Buddha Agung. Prasasti Wurare merupakan prasasti dengan isi peringatan penobatan arca Mahaksobhaya pada sebuah daerah bernama Wurare sehingga parasasti ini disebut dengan Prasasti Wuware. Prasasti ditulis dengan bahasa Sansekerta 

Sementara tulisan prasasti ada di atas lapik arca Buddha dengan melingkar dibagian bawah. Prasasti ini berbentuk 19 bait sajak dan diantaranya mengisahkan tentang pendeta sakti Arrya Bharad yang sudah membelah tanah Jawa menjadi 2 kerajaan dengan air ajaib yang ada pada kendinya sehingga menjadi Janggala dan Pangjalu. Ini dilaksanakan untuk menghindari terjadinya perang saudara 2 pangeran yang memperebutkan kekuasaan.

Prasasti Singgasari ditemukan di desa Singosari



Dari namanya saja tentu sudah jelas bahwa ini adalah prasasti Kerajaan Singasari. Prasasti Singasari ini ditemukan di desa Singosari, Malang, Jawa Timur. Prasasti Singasari ini memiliki catatan tanggal 1351 M. Prasasti Singasari ditulis menggunakan aksara Jawa dan saat ini disimpan di Museum Gajah. Prasasti ini diperkirakan dibangun dengan tujuan untuk peringatan pembangunan sebuah candi pemakaman atau caitya.

Prasasti Turyyan berada di Turren, 10 km dari Kepanjen


Prasasti ini selain memberikan informasi penting mengenai peristiwa yang berkaitan dengan keagamaan, juga berhubungan dengan perkembangan tahap-tahap budaya literasi di masyarakat. Mewakili salah satu fase dalam perkembangan budaya membaca dan menulis.

Sesuai dengan isinya Prasasti Empu Sindok disebut Prasasti Turyyan, yang kemudian menjadi nama Desa Turen, sebagai lokasi prasasti sekarang. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai Watu Godeg.

Dalam prasasti disebutkan bahwa pada tanggal 15 Suklapaksa bulan Srawana 851 Saka atau 24 Juli 929 M, Dang Atu pu Sahitya memohon kepada Sri Maharaja Rake Hino Dyah Sendok Sri Isanawikramadharmattunggadewa agar diberi hadiah tanah untuk mendirikan bangunan suci. Permintaan dikabulkan dan kepada Dang Atu pu Sahitya dianugerahkan sawah di Desa Turyyan dan tanah di sebelah barat sungai dan di utara pasar dengan ketentuan daerah sebelah barat sungai itulah tempat didirikannya bangunan suci.

Prasasti Sangguran ditemukan dibalik gunung Kawi, dari Kepanjen, berjarak 65 Km


Prasasti Sangguran dari tahun 928 M kini diketahui telantar di pekarangan rumah bangsawan Inggris, Lord Minto. Beberapa sejarawan mengatakan prasasti itu mengandung kutukan. Prasasti ditemukan di daerah Malang dan menyebut nama penguasa daerah itu, Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga (Dyah Wawa). Prasasti berbentuk tablet ini disebut juga Prasasti Minto karena dihadiahkan oleh Raffles kepada Lord Minto, keduanya pernah memimpin Hindia Belanda ketika Britania Raya menguasai Belanda pada dasawarsa kedua abad ke-19. Raffles sendiri memperolehnya sebagai hadiah dari Kolonel Colin Mackenzie, yang mengambilnya setelah melihat batu bertulis ini.

Prasasti bertinggi 2 meter dengan bobot 3,8 ton ini dianggap penting karena menyebut raja Medang, yang berpusat di Jawa Tengah, sebagai penguasa daerah Malang, meskipun angka tahunnya tidak bersepakat dengan prasasti lainnya. Isinya dianggap dapat membantu memecahkan misteri pindahnya pusat kekuasaan dari Jawa Tengah ke wilayah timur Pulau Jawa. 

Setelah berpuluh-puluh tahun berada di tangan pewaris keluarga Lord Minto di Roxburghshire, Skotlandia.


Prasasti Kanjuruhan ditemukan dilembah sungai Metro Dinoyo 13 km dari Kepanjen



Sebenarnya, Kanjuruhan adalah nama suatu kerajaan di lembah Kali Metro pada sub-area barat Kota Malang. Adapun Gajayana merupakan salah satu diantara tiga raja yang memerintah di kerajaan ini sebagaimana diberitakan oleh prasasti bertarikh 760 Masehi. Penanggalan dalam prasasti ini dijadikan petanda waktu Hari Jadi Kabupaten Malang.

Konon, prasasti yang kini lazim disebut “Prasasti Kanjuruhan” tersebut acap dinamai “Prasasti Dinoyo”, atau lebih spesifik lagi “Dinoyo I”. Dinamai demikian karena salah satu pecahan dari prasasti ini, yakni pecahan yang terbesar, ditemukan di Dinoyo. Berikut ditemukan dua pecahan lainnya yang lebih kecil di Desa Merjosari dan di dusun kuno “Kejuron” Desa Karangbesuki. Menilik kesamaan toponiminya, ada kemungkinan lokasi awalnya di Dusun Kejuron. Bahkan, bukan tidak mungkin ibukota kerajaan (kadatwan) Kanjuruhan berada di dusun ini. Sayang semenjak awal tahun 1980-an Dusun Kejuron digusur paksa lantas dijadikan areal perumahan oleh PT. Sarana Tidar Indah. Ironisnya, stuktur bangunan bata, Yoni beserta sejumlah artefaknya lumat abadi lantaran sengaja dibolduser. 

Ada hal menarik terkait nama stadion di Kota dan Kabupaten Malang, yaitu Stadion Kanjuruhan di Kepanjen dan Stadion Gajayana di Kota Malang. Nama “Kanjuruhan” juga digunakan untuk menamai perguruan tinggi (universitas), dan nama “Gajayana” unit Kereta Api (KA) jurusan Malang-Jakarta



Prasasti Kanjuruhan ditemukan tahun 1985

Prasasti Kanjuruhan rusak 
dipecahkan oleh palu kuli bangunan


Prasasti Kanjuruhan, yang juga dikenal sebagai Prasasti Dinoyo 2, disimpan dengan hati-hati di Museum Mpu Purwa Kota Malang setelah penyelamatan yang dilakukan oleh Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto. Keberadaan prasasti ini terancam ketika hancur oleh martil kuli batu yang hendak membangun selokan air di dekat lokasi.

Prasasti Dinoyo 2 ditemukan di Jalan MT Haryono, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Terbuat dari batu Andesit dengan ukuran 75 cm x 57 cm dan ketebalan 30 cm, prasasti ini memiliki nilai sejarah yang sangat berharga. Penemuan prasasti ini terjadi pada pertengahan 1985 oleh sekelompok kuli bangunan yang tengah mengerjakan pembangunan gorong-gorong atau selokan air di sekitar Polsek Lowokwaru. Kesadaran akan pentingnya artefak sejarah ini membawa mereka untuk melaporkan penemuan tersebut kepada pihak yang berwenang, sehingga prasasti ini dapat diselamatkan dan dilestarikan untuk generasi mendatang.