Pasar Besar Kepanjen Malang, berdiri 1926

Berada di jalan raya Malang-Blitar, tepatnya di jl. Pahlawan Kepanjen

Pasar Besar Kepanjen sebelah Timur

Digunakan sebagai tempat terminal penumpang Oplet, pasar hewan dan pom bensin.

KARNAFAL MALAM TEMA SENI-BUDAYA

Dalam memperingati HUT RI KE 7 TAHUN 1952.

Kantor polisi 1948

Kantor Polisi berubah fungsi sekarang menjadi KANTOR KELURAHAN KEPANJEN

Tampilkan postingan dengan label SENI-BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SENI-BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Sawah Produktif Kepanjen tahun 1941

Sawah  Produktif  di Kepanjen diera penjajah. 
ternyata berada ditepi sungai


Di sebuah desa kecil di Kabupaten Malang, tepatnya di Kepanjen, terletak sebuah ladang subur yang dikelilingi oleh pegunungan hijau yang mempesona. Ladang itu menjadi tempat bagi para petani untuk menanam padi, tanaman yang menjadi kebanggaan daerah Kepanjen. Di sana, tradisi bertani telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Masyarakat setempat telah lama mengenal keindahan dan potensi ladang-ladang padi mereka. Mereka mengerti bahwa pertanian adalah tulang punggung ekonomi mereka, dan bahwa setiap tangkai padi yang tumbuh di tanah mereka adalah anugerah yang harus dijaga dengan baik.

Indonesia, sebagai negara agraris, telah memberikan penekanan khusus pada pertanian. Namun, salah satu lumbung padi terbesar terletak di Kepanjen. Di sinilah, para petani bekerja keras setiap hari, mengolah tanah mereka dengan penuh semangat dan dedikasi.

Namun, mereka sadar bahwa untuk menjaga produktivitas dan menghadapi tantangan yang terus berkembang, mereka membutuhkan bantuan dan pembinaan. Pemerintah setempat dan berbagai lembaga telah memberikan dukungan dalam bentuk bantuan teknis dan finansial untuk membantu petani memacu semangat bertani mereka.

Dengan bantuan dan pembinaan yang diberikan, para petani di Kepanjen semakin termotivasi untuk meningkatkan produktivitas mereka. Mereka memanfaatkan teknologi modern dan pengetahuan yang mereka peroleh untuk mengoptimalkan hasil panen mereka, menjadikan ladang-ladang padi mereka menjadi salah satu yang terbaik di seluruh Kabupaten Malang.

Dengan semangat yang terus berkobar, ladang-ladang di Kepanjen terus menjadi sumber kebanggaan bagi masyarakat setempat dan menyumbang secara signifikan pada ketahanan pangan daerah Kepanjen secara keseluruhan.




Pemandangan di jalan Lori Talanggagung

 


Jalan alternatif dari Perumnas 2 Talangagung Kepanjen, yang akrab disebut "Kodok Ngorek", menuju pasar Talangagung, dibangun sekitar tahun 2012. Proyek ini mengalihfungsikan bekas jalur rel lori tebu menjadi jalan desa yang menghubungkan dua lokasi tersebut.

Perubahan ini tidak hanya membawa kemudahan akses bagi penduduk setempat, tetapi juga memberikan solusi yang kreatif dalam memanfaatkan infrastruktur yang ada untuk kepentingan masyarakat. Dengan transformasi jalur rel menjadi jalan desa, transportasi antarwilayah menjadi lebih lancar dan efisien.

Sejak dibangun, jalan alternatif ini telah menjadi jalur vital bagi aktivitas sehari-hari penduduk, serta menjadi simbol kemajuan dan inovasi dalam pengembangan infrastruktur lokal.

MAULUTAN DAN LABUHAN DI PANTAI NGLIYEP ( 1 )


Pantai Selatan Jawa yang terkenal memiliki ombak laut  besar salah satunya adalah pantai Ngliyep. Pantai Ngliyep ini oleh masyarakat Malang lebih awal dikenal dibanding dengan pantai-pantai lain yang ada di Kabupaten Malang dan menurut para pelancong lokal pantai Ngliyep memiliki pemandangan alam yang indah dan memiliki keunikan pada ombak lautnya.
Selain itu pantai Ngiyep sudah dikenal  sejak beberapa generasi dari sesepuh desa yang selalu rutin melaksanakan upacara labuhan di bulan Maulid "Muludan". Beberapa sesepuh desa dan masyarakat yang memiliki keyakinan ingin tentang cara menunjukkan bersyukur  kepada Alloh dan berdoa untuk berharap selalu mendapat perlindungan dalam satu tahun yang akan datang.

MAULUTAN DAN LABUHAN DI PANTAI NGLIYEP ( 2 )



Pantai Selatan Jawa yang terkenal memiliki ombak laut  besar salah satunya adalah pantai Ngliyep. Pantai Ngliyep ini oleh masyarakat Malang lebih awal dikenal dibanding dengan pantai-pantai lain yang ada di Kabupaten Malang dan menurut para pelancong lokal pantai Ngliyep memiliki pemandangan alam yang indah dan memiliki keunikan pada ombak lautnya.

Selain itu pantai Ngiyep sudah dikenal  sejak beberapa generasi dari sesepuh desa yang selalu rutin melaksanakan upacara labuhan di bulan Maulid "Muludan". Beberapa sesepuh desa dan masyarakat yang memiliki keyakinan ingin tentang cara menunjukkan bersyukur  kepada Alloh dan berdoa untuk berharap selalu mendapat perlindungan dalam satu tahun yang akan datang.


PAKAIAN KHAS PUTRI MALANG ERA 1960 - 1970



Di tengah gemerlapnya era pasca kemerdekaan, identitas daerah Jawa Timur, khususnya Malang, memancarkan keindahan yang tak terbantahkan melalui tradisi pakaian kebaya perempuan. Rentang waktu antara tahun 1960 hingga 1970-an menjadi saksi perjalanan panjang dari motif kebaya yang berkembang, menciptakan variasi yang memukau dalam bahan kain dan mode.

Pada masa tersebut, perubahan yang signifikan terjadi dalam dunia mode. Bahan kain kebaya yang sebelumnya didominasi oleh produksi rumahan, mulai diproduksi secara massal oleh pabrik dengan motif kain yang berlubang-lubang. Kebaya tidak lagi hanya sekadar busana, melainkan sebuah karya seni yang menggambarkan kreativitas dan keanggunan.

Motif batik bunga yang lembut mulai merajai dunia kebaya, menggantikan kebaya berwarna polos yang sebelumnya dominan. Wanita-wanita Malang pun mulai menemukan identitas baru dalam kebaya mereka, mengekspresikan keindahan alam dan budaya Jawa Timur melalui pilihan motif yang semakin beragam.

Tidak hanya dalam motif, namun juga dalam aksesori, pergeseran signifikan terjadi. Asesoris emas yang besar dan mewah menjadi penanda status sosial yang kental. Wanita-wanita Malang yang telah merasakan sentuhan modernitas kota, menambahkan sentuhan glamor dengan memakai kacamata kucing berwarna gelap sebagai pelengkap gaya mereka.

Sementara itu, dalam konteks agama, terjadi pula perkembangan tambahan. Setelah peristiwa G-30 S PKI, banyak perempuan yang beragama Islam mulai mengenakan selendang panjang sebagai simbol keimanan mereka. Kombinasi antara tradisi dan modernitas, antara keanggunan dan ketinggian moral, menciptakan identitas unik bagi perempuan Malang dalam pakaian kebaya mereka.

Dengan segala perubahan dan perkembangan tersebut, kebaya tetap menjadi lambang kebanggaan bagi perempuan-perempuan Malang, mencerminkan keindahan budaya dan keanggunan tradisi mereka dalam setiap jahitan dan motif yang dipilih.



Karnafal HUT RI tahun 1952


 foto : 1920/Mbah Wijaya/agung cw

Sejarah Terukir:
'Karnaval Budaya Perdana Menghiasi Kepanjen Malang dalam
Perayaan HUT RI ke-7"


Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 bukanlah pencapaian yang mudah, karena bangsa Indonesia harus melalui berbagai penjajahan dari bangsa Portugis, VOC, Belanda, dan Jepang selama berabad-abad. Perjuangan untuk meraih kemerdekaan dimulai jauh sebelum proklamasi dan terus berlanjut setelahnya, bahkan diuji lagi dengan konflik melawan tentara Sekutu yang mendukung Belanda. Meskipun akhirnya gagal, perlawanan tersebut ditunjukkan oleh hampir seluruh rakyat Indonesia.

Setelah proklamasi, berbagai peristiwa penting terjadi, termasuk pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pertama pada tanggal 18 Agustus 1945, serta penetapan UUD 1945 sebagai konstitusi negara oleh PPKI. Ini merupakan langkah awal menuju kedaulatan negara meskipun masih dalam tahap awal yang belum sepenuhnya matang.

Foto di atas menggambarkan kegiatan masyarakat Kepanjen Malang dalam rangka memperingati hari kemerdekaan yang ke-7. Suasana dalam foto terlihat sangat meriah, dengan peserta karnaval mulai dari anak-anak hingga orang dewasa bergabung dalam semangat syukur dan kebersamaan. Meskipun acara tersebut dilaksanakan pada malam hari, peserta karnaval tetap bersemangat dalam menampilkan budaya khas mereka. Penonton yang berjubel-jubel juga terlihat merasakan semangat dan kebebasan yang baru saja diraih setelah konflik dengan penjajah Belanda dalam peristiwa Clash pertama dan kedua yang belum lama berlalu.
 

Gunung KawI tahun 2000

Gunung Kawi 
dari dusun Gowok - Talangagung



Sawah Gowok dikenal menggunakan sistem irigasi teratur (teknis), yang mengandalkan sumber air dari kecamatan Ngajum. Kelompok tani yang disebut 'Darmotirto' di Jawa bertanggung jawab atas pengairan sawah ini.

Dengan sistem irigasi yang teratur, petani dapat panen padi sebanyak 2-3 kali dalam satu musim tanam. Hal ini menunjukkan efisiensi penggunaan air dan kesuksesan dalam manajemen pertanian di wilayah tersebut.




Lapangan Talangagung 2000

Pemandangan Gunung Kawi 
dari Lapangan desa Talangagung



Adalah sebuah hamparan lapangan terbuka yang terletak di jalur Kepanjen-Malang, dimiliki oleh pemerintah desa setempat. Lapangan ini digunakan untuk berbagai kegiatan seperti pertandingan sepak bola, upacara, pertunjukan masyarakat, dan berbagai acara lainnya.

Tidak hanya itu, di depan lapangan terdapat sebuah rukoh yang disewakan kepada masyarakat untuk kegiatan usaha mereka. Rukoh ini menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat sekitar, yang memberikan manfaat ekonomis dan sosial bagi penduduk setempat.

Pasar Sawunggaling tahun 1955

Pasar Lawas Sawunggaling 
(pasar penampungan sementara Kepanjen)

Pasar sawunggaling sekarang berubah jadi masjid


Pasar tradisional adalah tempat di mana penjual dan pembeli bertemu untuk melakukan transaksi setelah melalui proses tawar-menawar harga. Biasanya terletak di tempat terbuka dan menyediakan berbagai macam bahan pokok keperluan rumah tangga.

Bangunan di pasar lawas Sawunggaling bersifat semi permanen, dan umumnya digunakan untuk berjualan aneka kue, pakaian, barang atau perabotan dapur, buah-buahan, sayuran, ikan, daging, dan lainnya. Meskipun demikian, penerangan di pasar tradisional ini seringkali hanya secukupnya, dan kebersihannya kadang kurang terjaga. Sampah yang berserakan dan bertumpuk di beberapa sudut pasar seringkali menimbulkan bau tak sedap. Akibatnya, saat hujan turun, pasar menjadi becek dan kotor.

Pasar penampungan Sawunggaling adalah hasil pemindahan dari pasar Penarukan pada tahun 1900, saat masih berupa Lapangan Kepanjen. Pemindahan ini dilakukan karena adanya pembangunan sungai irigasi. Pada tahun 1930, pasar lawas ini kemudian dipindahkan ke pasar besar Kepanjen yang sekarang.



foto :1923/agung cw

BERSIH DESA JATIGUWI


Di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, ada sebuah tradisi yang sangat dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. Tradisi itu adalah kesenian bantengan, sebuah pertunjukan yang penuh semangat dan kegembiraan, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya di wilayah Desa Jatiguwi.

Setiap tahun, dalam rangka memperingati acara Bersih Desa, masyarakat Desa Jatiguwi menggelar pertunjukan kesenian bantengan. Yang menarik, kali ini pertunjukan tersebut dipimpin oleh para anak-anak kecil dari desa tersebut. Mereka bukan hanya menjadi penampil, tetapi juga penerus dari warisan budaya bantengan yang sangat berharga bagi komunitas mereka.

Dengan penuh semangat dan antusiasme, para anak-anak itu mempersiapkan diri untuk tampil di depan seluruh masyarakat desa dan tamu yang hadir. Mereka belajar gerakan-gerakan khas bantengan dan mempelajari seluk-beluk dari kesenian tersebut dari para sesepuh dan ahli warisan budaya di desa mereka.

Saat hari acara tiba, suasana desa dipenuhi dengan keceriaan dan riuh rendah. Para penonton, baik dari dalam maupun luar desa, berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan yang ditunggu-tunggu itu. Dan ketika para anak-anak itu memulai pertunjukan mereka, sorak sorai pun meledak di udara.

Mereka menari dengan lincah, menggerakkan bantengan mereka dengan penuh keahlian, dan menghidupkan kembali keindahan dan kegembiraan tradisi bantengan. Setiap gerakan mereka membawa pesan tentang kebanggaan akan warisan budaya mereka dan tekad untuk melanjutkan tradisi yang telah ada selama berabad-abad.

Ketika pertunjukan berakhir, tepuk tangan meriah dan senyum bahagia menghiasi wajah semua orang yang hadir. Acara Bersih Desa tidak hanya menjadi ajang pembersihan fisik, tetapi juga pembersihan jiwa dan perayaan akan identitas dan kekayaan budaya mereka.

Dengan semangat yang dipancarkan oleh para anak-anak tersebut, tradisi bantengan di Desa Jatiguwi diharapkan akan terus berkembang dan dilestarikan untuk generasi-generasi mendatang, sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya yang membanggakan bagi Kabupaten Malang.


foto : 19 September 2018/agung cw

Petani sedang menanam padi


Persawahan yang luas dekat dengan sungai metro, 
letak persawahan ini berada di timur sungai Metro Kepanjen



foto : 1935/wikimedia.org/agung cw



Persawahan Panggungrejo


Persawahan yang luas  dekat dengan hutan jati , 
letak  persawahan ini berada di timur sungai Metro




foto : 1935/wikimedia.org/agung cw

Lukisan Kendedes kini jadi incaran Kolektor

foto : 2017/Agung CW

Menurut pemilik sekarang bahwa, lukisan "Putri Kendedes" awalnya dimiliki oleh Bupati Pasuruan, lukisan ini bisa pindah tangan karena anaknya terkena penyakit mental (gila), setelah membeli lukisan pemilik lukisan Kendedes.

Akhirnya datang ke Malang untuk berkunjung ke guru spiritual yang rumahnya di Wagir untuk mengobatkan anaknya. Setelah bertemu dan diberceritakan tentang keanehan sakit  anaknya akhirnya dilihat oleh guru yang mampuan melihat hal-hal secara goib, langsung dia bercerita tentang apa yang dikehahui ternyata awal penyebab penyakitnya adalah lukisan Kendedes yang beberapa bulan dipasang diruang keluarga tersebut, siguru spiritual menerangkan bahwa lukisan itu bertuah dan sipemiliknya tidak kuat alias tidak pernah dirawat, akhirnya lukisan ini diberikan ke guru spiritual yang rumahnya ditepi sungai metro.

Topeng Panji Kedung Monggo Pakisadji

foto 1996


Di dukuh Kedung Monggo, sebuah desa yang terletak di kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, terdapat sebuah warisan budaya yang kaya akan sejarah dan keindahan, yaitu kesenian topeng Malangan. Awalnya, kesenian ini bermula dari gagasan seorang tokoh penting dalam komunitas, Mbah Serun, yang memprakarsai pertunjukan wayang topeng di daerah tersebut.

Mbah Serun adalah sosok yang berperan penting dalam memulai keberlangsungan kesenian topeng Malangan di Kedung Monggo. Setelahnya, inisiatif tersebut dilanjutkan oleh putra Mbah Serun, Mbah Kiman, dan bahkan cucunya, Mbah Karimun, yang mulai mengembangkan seni pembuatan topeng Malangan sekitar tahun 1930.

Tradisi pembuatan topeng dan seni tari yang disertai dengan topeng Malangan terus berkembang di tangan keluarga Mbah Karimun. Bapak Taslan, anak dari Mbah Karimun, menjadi penerus yang gigih dalam meneruskan pembuatan topeng dan mengajarkan seni tari kepada generasi selanjutnya, hingga mencapai tahun 1992.

Namun, warisan ini tidak berhenti di situ. Bapak Handoyo, cucu dari Mbah Karimun, memutuskan untuk meneruskan tradisi keluarga dalam seni topeng Malangan. Pada sekitar tahun 1995, ia memulai perjalanan seninya dan dengan penuh semangat, ia menjaga dan mengembangkan keberlangsungan kesenian topeng Malangan hingga saat ini.

Melalui dedikasi dan kerja keras dari para leluhur dan keturunan mereka, kesenian topeng Malangan di dukuh Kedung Monggo tetap hidup dan berkembang pesat. Setiap topeng yang mereka buat dan setiap gerakan tarian yang mereka lakukan membawa cerita panjang tentang perjalanan dan warisan budaya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Malang Selatan.

Budayawan dari Kepanjen

Foto Acara di Gedung DPR Kab. Malang tahun 2016

Di tengah kehangatan perayaan Hari Jadi Kabupaten Malang yang ke-1450, aula gedung DPR Kabupaten Malang jalan Panji Kepanjen-Malang dipenuhi dengan sedikit canda dan tawa riang sambil mnenunggu acara dimulai. Di ruang undangan, tiga sosok budayawan duduk berdampingan, mengikuti acara paripurna istimewah tersebut.

Pertama, Bapak Ariyanto dari Jenggolo, duduk dengan penuh kebanggaan sambil mengamati panggung yang penuh dengan Bapak Bupati Malang, Ketua DPR kab Malang. Budayawan Jenggolo ini adalah seorang penganut nilai tradisi dan seni, yang selalu memperjuangkan pelestarian budaya lokal.

Di sebelahnya, Bapak Agung Cahyo Wibowo dari Kepanjen, duduk dengan sikap tenang namun penuh semangat. Sebagai seorang budayawan yang juga aktif dalam kegiatan sosial masyarakat, Agung Cahyo Wibowo selalu berusaha menggali dan mempromosikan kekayaan budaya Kepanjen, sehingga menjadi semakin dihargai oleh generasi muda.

Terakhir, Bapak Jamali dari Dilem, duduk dengan tatapan yang penuh kekaguman. Dia adalah figur yang dikenal sebagai pembawa semangat bagi pemuda-pemuda di desanya. Melalui berbagai kegiatan budaya dan seni, Jamali berusaha untuk menjaga identitas budaya lokal tetap hidup dan berkembang.

Meskipun dari tiga daerah yang berbeda, ketiganya memiliki satu visi yang sama: menjaga dan memperkaya keberagaman budaya Kabupaten Malang. Di antara gemerlapnya perayaan, mereka terus berkumpul, berbagi cerita dan pengalaman, serta merencanakan langkah-langkah ke depan untuk memperkuat warisan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur mereka.

Dalam kebersamaan dan semangat kolaboratif, mereka percaya bahwa melalui kerja keras dan kecintaan terhadap budaya lokal, Kabupaten Malang akan terus berkembang dan dikenal luas sebagai tempat yang kaya akan nilai-nilai tradisional yang berharga.


Ciri orang Malang Selatan Asli


Menurut data yang kami peroleh, lalu pengecekan pada lapangan tentang ciri-ciri asli orang Malang Selatan yang murni belum ada campuran dari genetika luar wilayah, misalnya : dari perkawinan orang Mataram, Banten, Madura atau luar pulau
 adalah memiliki ciri :
  1. Matanya bulat, pandangan mata tajam
  2. Kupingnya besar
  3. Hidung pesek
  4. Bibir setengah tebal (khas jawa)
  5. Badan tinggi besar dan Tegap
  6. Kulit Sawo matang
  7. Tangan kekar dan jarinya besar


DIDUSUN TEGARON, DESA PANGGUNGREDJO KECAMATAN KEPANJEN






Gambar pemandangan pegunungan Kendeng Pagak dilihat dari Tugaran (Tegaron), ada kisah tempat ini tentang kenarok setelah melarikan diri ke Tugaran, lalu bersembunyi di gunung pusaka

Gunung pusaka telah berubah nama sesuai dengan masanya, yakni gunung Bendara, gunung Slamet, gunung Geger

(foto 2014)

Didusun Tegaron, Desa Panggungredjo Kecamatan Kepanjen


Nama Wilayah dusun Tegaron (nama lamaTugaran) yang pernah di sebut dalam Kitab Pararaton, karangan dari Empu Prapanca dikisahkan, bahwa Ken Angrok di fitnah telah memperkosa gadis di desa Segenggeng lalu Ken Angrok menjadi buronan Akuwu Tumapel, yang melarikan diri untuk bersembunyi ke wilayah Bapa Tugaran, lalu Ken Angrok memindah patung ke pintu Bapa, setelah itu bersembunyi lagi di gunung pusaka (gunung bendera/slamet pagak) .........

Dalam kisah kitab Pararaton bahwa wilayah Tugaran adalah wilayah pertanian, berlanjut sampai sekarang.

 (foto 2014 / sumber :agung cw)



Keindahan sungai Brantas didesa Kemiri Kepanjen


(foto tahun 2014)

Di tengah heningnya alam, di tepi sungai yang mengalir tenang, terdapat tiga sahabat yang tengah menikmati keindahan alam sungai Brantas didesa Kemiri Kepanjen sambil menunggu umpan mereka disambar oleh ikan yang melintas di sungai. Saya dan Budi yang gemar memancing.

Saat matahari mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur, mereka sudah siap dengan peralatan memancing mereka. Saya mengikat umpan ke ujung tali senar, Budi mempersiapkan joran dengan sabar, dan kami sibuk memasang perangkap ikan di sekitar air yang terdapat di sungai itu.

"Sudah siap,kita ?" tanya Budi sambil tersenyum.

"Sudah!" jawab saya

Kami melemparkan umpan ke tengah sungai dan duduk bersila di tepiannya, menantikan gerakan kecil yang akan mengindikasikan ada ikan yang menggigit umpan.

Sementara itu, dibalik aksi mereka, duduklah Pak Udin, seorang tua dari desa sebelah, yang melihat mereka dengan senyum kecil. "Anak-anak muda sekarang, mereka tidak tahu betapa berharganya kenangan dengan memancing menggunakan tali senar," gumamnya sambil mengenang masa muda.

Pak Udin lalu mengambil sehelai tali senar dari kantongnya, sebuah benda sederhana namun penuh kenangan. Ia memandang sungai dengan tatapan penuh nostalgia, mengingat betapa dulu ia dan teman-temannya sering menghabiskan waktu di sini, memancing dengan tali senar yang sama.

Dalam keheningan pagi, Pak Udin pun mulai mengaitkan umpan ke ujung tali senarnya dan meluncurkannya ke dalam air dengan keahlian yang sudah ia miliki selama puluhan tahun.

Saat matahari semakin tinggi di langit, kami terkejut melihat gerakan tali senar Pak Udin yang meliuk-liuk di sungai. Mereka kami memandang dengan kagum, tak percaya bahwa memancing dengan tali senar ternyata masih bisa dilakukan dan berhasil menangkap ikan.

Dari sisi lain sungai, Pak Udin tersenyum lebar saat merasakan tarikan dari ikan yang menggigit umpannya. Ia memandang ke arah kami sambil berkata, "Dulu, inilah yang kami lakukan hampir setiap hari. Memancing dengan tali senar bukan hanya sekadar hobi, tapi juga bagian dari kehidupan kami."

Kami melihat dengan penuh inspirasi. Mereka sadar bahwa keindahan memancing tidak hanya terletak pada hasil tangkapan, tapi juga pada prosesnya yang membangun ikatan dengan alam dan tradisi nenek moyang kita.

Dari situlah, kami bersama-sama merenungkan bagaimana nilai-nilai sederhana seperti memancing dengan tali senar dapat membawa kekayaan pengalaman dan kenangan yang tak ternilai harganya. Dan sejak hari itu, mereka kami berjanji untuk tetap menjaga dan menghargai tradisi lama, bahkan di tengah gemerlapnya zaman modern.

Pemandangan petani keramba ikan sungai Brantas desa Kemiri (tahun 2014)



Suasana petani kerambah disungai Berantas, dengan selebar 100 meter, 
dimana ditepinya banyak ditumbuhi tumbuhan eceng gondok
sampai sebelum bendungan Sengguruh.