Gunung Katu diduga tempat Perabuhan Sang Rajasa Tumapel
yang berada didaerah Kagenengan
Pasar Besar Kepanjen Malang, berdiri 1926
Berada di jalan raya Malang-Blitar, tepatnya di jl. Pahlawan Kepanjen
Pasar Besar Kepanjen sebelah Timur
Digunakan sebagai tempat terminal penumpang Oplet, pasar hewan dan pom bensin.
KARNAFAL MALAM TEMA SENI-BUDAYA
Dalam memperingati HUT RI KE 7 TAHUN 1952.
Kantor polisi 1948
Kantor Polisi berubah fungsi sekarang menjadi KANTOR KELURAHAN KEPANJEN
Sawah Produktif Kepanjen tahun 1941
Pemandangan di jalan Lori Talanggagung
Jalan alternatif dari Perumnas 2 Talangagung Kepanjen, yang akrab disebut "Kodok Ngorek", menuju pasar Talangagung, dibangun sekitar tahun 2012. Proyek ini mengalihfungsikan bekas jalur rel lori tebu menjadi jalan desa yang menghubungkan dua lokasi tersebut.
Perubahan ini tidak hanya membawa kemudahan akses bagi penduduk setempat, tetapi juga memberikan solusi yang kreatif dalam memanfaatkan infrastruktur yang ada untuk kepentingan masyarakat. Dengan transformasi jalur rel menjadi jalan desa, transportasi antarwilayah menjadi lebih lancar dan efisien.
Sejak dibangun, jalan alternatif ini telah menjadi jalur vital bagi aktivitas sehari-hari penduduk, serta menjadi simbol kemajuan dan inovasi dalam pengembangan infrastruktur lokal.
MAULUTAN DAN LABUHAN DI PANTAI NGLIYEP ( 1 )
MAULUTAN DAN LABUHAN DI PANTAI NGLIYEP ( 2 )
Pantai Selatan
Jawa yang terkenal memiliki ombak laut besar salah satunya adalah pantai Ngliyep. Pantai Ngliyep ini oleh masyarakat Malang lebih awal dikenal dibanding dengan pantai-pantai lain yang ada di Kabupaten
Malang dan menurut para pelancong lokal pantai Ngliyep memiliki pemandangan
alam yang indah dan memiliki keunikan pada ombak lautnya.
Selain itu pantai Ngiyep sudah dikenal sejak beberapa generasi dari sesepuh desa yang selalu rutin melaksanakan upacara labuhan di bulan Maulid "Muludan". Beberapa sesepuh desa dan masyarakat yang memiliki keyakinan ingin tentang cara menunjukkan bersyukur kepada Alloh dan berdoa untuk berharap selalu mendapat perlindungan dalam satu tahun yang akan datang.
PAKAIAN KHAS PUTRI MALANG ERA 1960 - 1970
Di tengah gemerlapnya era pasca kemerdekaan, identitas daerah Jawa Timur, khususnya Malang, memancarkan keindahan yang tak terbantahkan melalui tradisi pakaian kebaya perempuan. Rentang waktu antara tahun 1960 hingga 1970-an menjadi saksi perjalanan panjang dari motif kebaya yang berkembang, menciptakan variasi yang memukau dalam bahan kain dan mode.
Pada masa tersebut, perubahan yang signifikan terjadi dalam dunia mode. Bahan kain kebaya yang sebelumnya didominasi oleh produksi rumahan, mulai diproduksi secara massal oleh pabrik dengan motif kain yang berlubang-lubang. Kebaya tidak lagi hanya sekadar busana, melainkan sebuah karya seni yang menggambarkan kreativitas dan keanggunan.
Motif batik bunga yang lembut mulai merajai dunia kebaya, menggantikan kebaya berwarna polos yang sebelumnya dominan. Wanita-wanita Malang pun mulai menemukan identitas baru dalam kebaya mereka, mengekspresikan keindahan alam dan budaya Jawa Timur melalui pilihan motif yang semakin beragam.
Tidak hanya dalam motif, namun juga dalam aksesori, pergeseran signifikan terjadi. Asesoris emas yang besar dan mewah menjadi penanda status sosial yang kental. Wanita-wanita Malang yang telah merasakan sentuhan modernitas kota, menambahkan sentuhan glamor dengan memakai kacamata kucing berwarna gelap sebagai pelengkap gaya mereka.
Sementara itu, dalam konteks agama, terjadi pula perkembangan tambahan. Setelah peristiwa G-30 S PKI, banyak perempuan yang beragama Islam mulai mengenakan selendang panjang sebagai simbol keimanan mereka. Kombinasi antara tradisi dan modernitas, antara keanggunan dan ketinggian moral, menciptakan identitas unik bagi perempuan Malang dalam pakaian kebaya mereka.
Dengan segala perubahan dan perkembangan tersebut, kebaya tetap menjadi lambang kebanggaan bagi perempuan-perempuan Malang, mencerminkan keindahan budaya dan keanggunan tradisi mereka dalam setiap jahitan dan motif yang dipilih.
Karnafal HUT RI tahun 1952
Gunung KawI tahun 2000
Lapangan Talangagung 2000
Adalah sebuah hamparan lapangan terbuka yang terletak di jalur Kepanjen-Malang, dimiliki oleh pemerintah desa setempat. Lapangan ini digunakan untuk berbagai kegiatan seperti pertandingan sepak bola, upacara, pertunjukan masyarakat, dan berbagai acara lainnya.
Tidak hanya itu, di depan lapangan terdapat sebuah rukoh yang disewakan kepada masyarakat untuk kegiatan usaha mereka. Rukoh ini menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat sekitar, yang memberikan manfaat ekonomis dan sosial bagi penduduk setempat.
Pasar Sawunggaling tahun 1955
![]() |
| Pasar sawunggaling sekarang berubah jadi masjid |
Pasar tradisional adalah tempat di mana penjual dan pembeli bertemu untuk melakukan transaksi setelah melalui proses tawar-menawar harga. Biasanya terletak di tempat terbuka dan menyediakan berbagai macam bahan pokok keperluan rumah tangga.
Bangunan di pasar lawas Sawunggaling bersifat semi permanen, dan umumnya digunakan untuk berjualan aneka kue, pakaian, barang atau perabotan dapur, buah-buahan, sayuran, ikan, daging, dan lainnya. Meskipun demikian, penerangan di pasar tradisional ini seringkali hanya secukupnya, dan kebersihannya kadang kurang terjaga. Sampah yang berserakan dan bertumpuk di beberapa sudut pasar seringkali menimbulkan bau tak sedap. Akibatnya, saat hujan turun, pasar menjadi becek dan kotor.
Pasar penampungan Sawunggaling adalah hasil pemindahan dari pasar Penarukan pada tahun 1900, saat masih berupa Lapangan Kepanjen. Pemindahan ini dilakukan karena adanya pembangunan sungai irigasi. Pada tahun 1930, pasar lawas ini kemudian dipindahkan ke pasar besar Kepanjen yang sekarang.
BERSIH DESA JATIGUWI
Di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, ada sebuah tradisi yang sangat dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. Tradisi itu adalah kesenian bantengan, sebuah pertunjukan yang penuh semangat dan kegembiraan, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya di wilayah Desa Jatiguwi.
Setiap tahun, dalam rangka memperingati acara Bersih Desa, masyarakat Desa Jatiguwi menggelar pertunjukan kesenian bantengan. Yang menarik, kali ini pertunjukan tersebut dipimpin oleh para anak-anak kecil dari desa tersebut. Mereka bukan hanya menjadi penampil, tetapi juga penerus dari warisan budaya bantengan yang sangat berharga bagi komunitas mereka.
Dengan penuh semangat dan antusiasme, para anak-anak itu mempersiapkan diri untuk tampil di depan seluruh masyarakat desa dan tamu yang hadir. Mereka belajar gerakan-gerakan khas bantengan dan mempelajari seluk-beluk dari kesenian tersebut dari para sesepuh dan ahli warisan budaya di desa mereka.
Saat hari acara tiba, suasana desa dipenuhi dengan keceriaan dan riuh rendah. Para penonton, baik dari dalam maupun luar desa, berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan yang ditunggu-tunggu itu. Dan ketika para anak-anak itu memulai pertunjukan mereka, sorak sorai pun meledak di udara.
Mereka menari dengan lincah, menggerakkan bantengan mereka dengan penuh keahlian, dan menghidupkan kembali keindahan dan kegembiraan tradisi bantengan. Setiap gerakan mereka membawa pesan tentang kebanggaan akan warisan budaya mereka dan tekad untuk melanjutkan tradisi yang telah ada selama berabad-abad.
Ketika pertunjukan berakhir, tepuk tangan meriah dan senyum bahagia menghiasi wajah semua orang yang hadir. Acara Bersih Desa tidak hanya menjadi ajang pembersihan fisik, tetapi juga pembersihan jiwa dan perayaan akan identitas dan kekayaan budaya mereka.
Dengan semangat yang dipancarkan oleh para anak-anak tersebut, tradisi bantengan di Desa Jatiguwi diharapkan akan terus berkembang dan dilestarikan untuk generasi-generasi mendatang, sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya yang membanggakan bagi Kabupaten Malang.
Petani sedang menanam padi
Persawahan Panggungrejo
Lukisan Kendedes kini jadi incaran Kolektor
Topeng Panji Kedung Monggo Pakisadji
Di dukuh Kedung Monggo, sebuah desa yang terletak di kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, terdapat sebuah warisan budaya yang kaya akan sejarah dan keindahan, yaitu kesenian topeng Malangan. Awalnya, kesenian ini bermula dari gagasan seorang tokoh penting dalam komunitas, Mbah Serun, yang memprakarsai pertunjukan wayang topeng di daerah tersebut.
Mbah Serun adalah sosok yang berperan penting dalam memulai keberlangsungan kesenian topeng Malangan di Kedung Monggo. Setelahnya, inisiatif tersebut dilanjutkan oleh putra Mbah Serun, Mbah Kiman, dan bahkan cucunya, Mbah Karimun, yang mulai mengembangkan seni pembuatan topeng Malangan sekitar tahun 1930.
Tradisi pembuatan topeng dan seni tari yang disertai dengan topeng Malangan terus berkembang di tangan keluarga Mbah Karimun. Bapak Taslan, anak dari Mbah Karimun, menjadi penerus yang gigih dalam meneruskan pembuatan topeng dan mengajarkan seni tari kepada generasi selanjutnya, hingga mencapai tahun 1992.
Namun, warisan ini tidak berhenti di situ. Bapak Handoyo, cucu dari Mbah Karimun, memutuskan untuk meneruskan tradisi keluarga dalam seni topeng Malangan. Pada sekitar tahun 1995, ia memulai perjalanan seninya dan dengan penuh semangat, ia menjaga dan mengembangkan keberlangsungan kesenian topeng Malangan hingga saat ini.
Melalui dedikasi dan kerja keras dari para leluhur dan keturunan mereka, kesenian topeng Malangan di dukuh Kedung Monggo tetap hidup dan berkembang pesat. Setiap topeng yang mereka buat dan setiap gerakan tarian yang mereka lakukan membawa cerita panjang tentang perjalanan dan warisan budaya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Malang Selatan.
Budayawan dari Kepanjen
Ciri orang Malang Selatan Asli
- Matanya bulat, pandangan mata tajam
- Kupingnya besar
- Hidung pesek
- Bibir setengah tebal (khas jawa)
- Badan tinggi besar dan Tegap
- Kulit Sawo matang
- Tangan kekar dan jarinya besar
Didusun Tegaron, Desa Panggungredjo Kecamatan Kepanjen

(foto 2014 / sumber :agung cw)
Keindahan sungai Brantas didesa Kemiri Kepanjen

Di tengah heningnya alam, di tepi sungai yang mengalir tenang, terdapat tiga sahabat yang tengah menikmati keindahan alam sungai Brantas didesa Kemiri Kepanjen sambil menunggu umpan mereka disambar oleh ikan yang melintas di sungai. Saya dan Budi yang gemar memancing.
Saat matahari mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur, mereka sudah siap dengan peralatan memancing mereka. Saya mengikat umpan ke ujung tali senar, Budi mempersiapkan joran dengan sabar, dan kami sibuk memasang perangkap ikan di sekitar air yang terdapat di sungai itu.
"Sudah siap,kita ?" tanya Budi sambil tersenyum.
"Sudah!" jawab saya
Kami melemparkan umpan ke tengah sungai dan duduk bersila di tepiannya, menantikan gerakan kecil yang akan mengindikasikan ada ikan yang menggigit umpan.
Sementara itu, dibalik aksi mereka, duduklah Pak Udin, seorang tua dari desa sebelah, yang melihat mereka dengan senyum kecil. "Anak-anak muda sekarang, mereka tidak tahu betapa berharganya kenangan dengan memancing menggunakan tali senar," gumamnya sambil mengenang masa muda.
Pak Udin lalu mengambil sehelai tali senar dari kantongnya, sebuah benda sederhana namun penuh kenangan. Ia memandang sungai dengan tatapan penuh nostalgia, mengingat betapa dulu ia dan teman-temannya sering menghabiskan waktu di sini, memancing dengan tali senar yang sama.
Dalam keheningan pagi, Pak Udin pun mulai mengaitkan umpan ke ujung tali senarnya dan meluncurkannya ke dalam air dengan keahlian yang sudah ia miliki selama puluhan tahun.
Saat matahari semakin tinggi di langit, kami terkejut melihat gerakan tali senar Pak Udin yang meliuk-liuk di sungai. Mereka kami memandang dengan kagum, tak percaya bahwa memancing dengan tali senar ternyata masih bisa dilakukan dan berhasil menangkap ikan.
Dari sisi lain sungai, Pak Udin tersenyum lebar saat merasakan tarikan dari ikan yang menggigit umpannya. Ia memandang ke arah kami sambil berkata, "Dulu, inilah yang kami lakukan hampir setiap hari. Memancing dengan tali senar bukan hanya sekadar hobi, tapi juga bagian dari kehidupan kami."
Kami melihat dengan penuh inspirasi. Mereka sadar bahwa keindahan memancing tidak hanya terletak pada hasil tangkapan, tapi juga pada prosesnya yang membangun ikatan dengan alam dan tradisi nenek moyang kita.
Dari situlah, kami bersama-sama merenungkan bagaimana nilai-nilai sederhana seperti memancing dengan tali senar dapat membawa kekayaan pengalaman dan kenangan yang tak ternilai harganya. Dan sejak hari itu, mereka kami berjanji untuk tetap menjaga dan menghargai tradisi lama, bahkan di tengah gemerlapnya zaman modern.
Pemandangan petani keramba ikan sungai Brantas desa Kemiri (tahun 2014)

sampai sebelum bendungan Sengguruh.


























