Pasar Besar Kepanjen Malang, berdiri 1926

Berada di jalan raya Malang-Blitar, tepatnya di jl. Pahlawan Kepanjen

Pasar Besar Kepanjen sebelah Timur

Digunakan sebagai tempat terminal penumpang Oplet, pasar hewan dan pom bensin.

KARNAFAL MALAM TEMA SENI-BUDAYA

Dalam memperingati HUT RI KE 7 TAHUN 1952.

Kantor polisi 1948

Kantor Polisi berubah fungsi sekarang menjadi KANTOR KELURAHAN KEPANJEN

Tampilkan postingan dengan label Masa Penjajah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masa Penjajah. Tampilkan semua postingan

Pasar Sumberpucung tahun 1941

Pasar Tradisional di Sumberpucung 


 

Pasar Desa Sumberpucung merupakan pasar yang cukup luas, didirikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mendukung ekonomi masyarakat sekitar. Wilayah-wilayah seperti Krajan, Rekesan, Pakel, Suko, Sumber Ayu, Bandung, Lumbu Peteng, dan Karangkates menjadi bagian dari jangkauan pasar ini.

Di pasar ini, beragam barang dagangan tersedia untuk dipilih, mulai dari bahan makanan hingga barang-barang kebutuhan sehari-hari lainnya. Keberadaan Pasar Desa Sumberpucung menjadi pusat aktivitas ekonomi lokal dan tempat berkumpulnya masyarakat untuk berinteraksi dan bertransaksi.

Pasar Kepanjen tahun 1948

Belanda mengejar Pejuang
Pasar Kepandjen tahun 1948 



Pasar Kepandjen terletak di Jalan kota Malang menuju kota Blitar, yang dibangun pada tahun 1926, tempat dan jalan ini berubah menjadi status dari jalan desa menjadi jalan nasional. Pasar Besar Kepandjen difungsinya sebagai tempat memenuhi kebutuhan pangan dan ekonomi beberapa masyrakat desa antara lain : desa Kepandjen, desa Tjepokomuljo, desa Klenjeran, desa Penarukan, desa Ngandilangkung, desa Dilem. Ternyata pasar Kepandjen tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga memenuhi kebutuhan antar daerah asisten wedono : Sumberputjung, Gondanglegi kulon, Pagak dan Pakisadji.

Pada tahun 1948 tentara Belanda datang mengejar tentara republik yang lari dari kota Malang, waktu itu tentara Belanda sempat masuk kampung-kampung di sekitar Kepandjen dan sempat juga terjadi perlawanan dari tentara republik.   .

Dalan Pakisaji tahun1948

Malang Jaman Landa
Kantor Asisten Wedono Pakisaji




Asisten Wedono

Kawedanan punika kathah dipuntindakaken ing tlatah Jawi kanthi pemimpin ingkang dipunwastani Wedana. Amarga ing ngisor kabupaten, Wedana dhewe dadi pimpinan kanggo sawetara kecamatan.
 
Malang dhewe nalika jaman Walanda kaperang dadi wolung Kawedanan yaiku Karanglo, Pakis, Gondanglegi, Penanggungan, Senggoro (kepandjen), Antang (Ngantang), Turen lan Kawedanan Kotta (Kutha Malang). Ing lelampahan, Kota Malang banjur ing taun 1914 dadi Kotamadya dhewe lan pisah saka Kabupaten Malang.

Struktur pamaréntahan pisanan ditata lan dikenalaké marang Daendels, Gubernur Jenderal saka Walanda sing mrentah ing taun 1808-1811 (padha karo Presiden). Daendels mbagi tanah Jawa dadi sanga prefektur, saben dipandhegani prefektur. Bupati dhewe diangkat dadi pejabat pemerintah kabupaten ing sangisore prefek.

Nalika Inggris mrentah ing taun 1811-1816, Gubernur Raffles ngenalake istilah Residency minangka pengganti landdrost-ambt, Jawa dibagi dadi 16 Residencies. Kanggo nggampangake, Raffles uga ngenalake jabatan Wedana dadi kepala kabupaten.

Saka turun-temurun aturane ora owah lan sistem pemerintahan Indonesia saka pemerintah pusat dumadi saka Residen, Asisten Residen, Controleur, Bupati (Bupati), Wedana (kabupaten hoft), lan Asisten Wedana.

Sawisé Indonesia mardika, modhèl pamaréntahan ora owah nganti 20 taun. Banjur ing taun 1965, UU No. 18 ngenani 'Prinsip-Prinsip Pemerintahan Daerah', sing mbentuk Pemerintah Daerah mung dumadi saka daerah otonom.

Banjur Kawedanan dibubarake kanthi bertahap wiwit taun 1963 kanthi metune Keppres No 22 Tahun 1963. Sanajan wis dibubarake, Kawedanan isih aktif nganti taun 70-an ing Malang. Alon-alon, jabatan Kawedanan sing wis dibubarake dilebokake ing sawetara panggonan dening pejabat sing diarani Asisten Bupati sing ora duwe wewenang kanggo nggawe keputusan. Wilayah kerja kasebut diarani Wilayah Pembantu Bupati.

Pabrik Uang Kendalpayak 1946

Pabrik Oeang Republik Indonesia (ORI)
Beroperasi setelah Merdeka tahun 1945 

 

Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, pernah mencatatkan jejak sejarah penting dalam perlawanan terhadap kolonialisme. Salah satu bentuk perlawanan yang simbolis adalah pencetakan mata uang putih, yang menjadi lambang persatuan masyarakat untuk melawan mata uang merah yang diproduksi oleh pemerintah kolonial Belanda.

Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang juga disebut uang putih akhirnya benar-benar diterbitkan pada tahun 1945. Pada saat itu pecahan dari ORI adalah 1, 5, 10 dan 50 sen. Kemudian disusul pecahan 1, 5, 10, 100 rupiah.

ORI dicetak di sebuah pabrik percetakan bernama Nederlands Indische Metaalwaren En Emballage Fabrieken (NIMEF) di Desa Kendalpayak, Pakisaji.

Namun, ORI yang akan digunakan sebagai lambang persatuan tetap harus dicetak. Karena itu kemudian setelah diresmikan pada 24 Oktober 1945 oleh Menteri Keuangan A.A Maramis. Pemerintah memberikan tugas kepada Serikat Buruh Percetakan G. Kolff di Jakarta agar meninjau ke daerah untuk melakukan pencetakan uang.

Selain Jakarta, satu-satunya tempat yang bisa mencetak uang di kala itu hanya NIMEF, karena punya mesin modern di masanya. Akhirnya pemerintah menugaskan RAS Winarno dan Joenet Ramli untuk menangani percetakan di Malang.

Mesin itu salah satunya adalah mesin potong seybold precision buatan Amerika. Mesin mempunyai tenaga penggerak motor listrik dengan kapasitas daya 1 KW. Ukuran kertas yang dapat dipotong oleh mesin ini, maksimal berukuran 500 x 900 mm.

Fungsi mesin ini adalah memotong uang kertas yang sudah ada simbol ORI-nya. NIMEF tidak lama mencetak uang karena kemudian mesin-mesin percetakan uangnya dibawa ke Yogyakarta dan digunakan mencetak disana.

Di sisi lain, NIMEF sendiri terbakar saat agresi militer Belanda 1947. Pabrik yang juga berkembang menjadi pabrik kaleng hingga percetakan logam itu kabarnya sudah pindah ke Malang dengan nama baru yaitu NV Pancasona tidak lama setelah agresi.



 
Sumber: @pemkotmalang, ngalam.co

Masjid Pakisadji tahun 1948


 


Jauh sebelum Indonesia merdeka, ketika masih dalam masa peperangan dengan Belanda, Masjid Besar Al-Ihsan Pakisaji sudah ada, sudah berdiri. Karena masjid besar tersebut di atas berdiri pada tanggal 14 Januari 1924. Ini berarti 21 tahun sebelum Indonesia merdeka Masjid ini sudah hidup bersama warga Muslim di Pakisaji. Dan sepuluh tahun kemudia diadakan renovasi fisik masjid dengan merubah dua menara, yaitu sebelah kanan dan kiri masjid.

Masjid Besar Al-Ihsan Pakisaji waktu itu termasuk masjid paling besar di Kecamatan Pakisaji. Dan satu-satunya masjid yang ada, sehingga jamaahnya/ jamaah sholat jumat dan hari raya diikuti warga sekecamatan Pakisaji. Perlu diketahui bahwa sebelum berdirinya Masjid Besar Al-Ihsan Pakisaji, masyarakat Pakisaji melaksanakan Sholat Jum’at mupun Sholat Hari Raya di Masjid Jami’ Kota Malang dengan naik dokar, cikar, maupun berjalan kaki. Namun setelah masjid berdiri, masyarakat Kecamatan Pakisaji tidak lagi ke Malang.

Masalah tempat berdirinya masjid pada awalnya tidak semua tokoh menyetujuinya. Sebagian menghendaki didirikan di Pakisaji Utara tepatnya di Gang 1 dan sebagian yang lain menghendaki di Desa Karangpandan di sekitar pertigaan Dusun Bendo dan Desa Karangpandan. Sesungguhnya dua tempat tersebut sudah ada masjid, namun sangat kecil ukurannya sepeti surau atau langgar.

Akhirnya Pemerintah Tingkat Kecamatan terpaksa turun tangan dan Camat atau masyarakat menyebutnya dengan Ndoro Asten menetapkan bahwa masjid harus berdiri di tengah, tidak di utara maupun di selatan. Yaitu tempat sekarang ini. Dan kebetulan tanah yag ditunjuk adalah tanah milik Bapak Moh. Ihsan. Sedangkan pemilik tanah tersebut tidak keberatan dan siap mewaqafkan tanahnya untuk masjid. Akhirnya nama masjid diambil dari nama muwafiq yaitu Masjid Besar Al-Ihsan Pakisaji.

Perlu diketahui bahwa berdirinya masjid tersebut tidak lepas dari ketokohan Bapak Moh. Syahid sekaligus ketua takmir yang pertama. Setelah mendapat restu dari camat, beliau langsung mengumpulkan tokoh-tokoh masyarkat dan pemuda. Bapak Moh. Syahid juga mendapat dukungan moral dari Pengasuh Pondok Pesantren Sonotengah KH. Moh. Said yang kelak pondoknya pindah ke Ketapan Kepanjen. Untuk mengumpulkan dana waktu itu tidak semudah sekarang, ada yang mengumpulkan dengan mengedarkan klontang ke pasar-pasar. Ada yang keluar kota bahkan sampai Surabaya.

Sumber :

Tokoh-tokoh yang ikut aktif antara lain, H. Ridwan, H. Damanhuri, H. Ibrohim, H. Abu, dan H. Kasan Anwar. Itulah sejarah Masjid Besar Al-Ihsan Pakisaji.


Pabrik Uang di Kendalpayak tahun 1946


 

Pabrik yang terletak di desa Kendalpayak, Pakisadji - Malang ini telah di bumi hanguskan" oleh pejuang Rebublik lokal, karena ditakutkan penjajah Belanda akan kembali dan menguasai Republik lagi, sehingga pabrik, rumah, bangunan penting dirusak agar tidak bisa ditempati lagi oleh penjajah.



Sumber Pemandian Metro tahun 1910





Kepanjen Malang dan sekitarnya merupakan salah satu daerah kaya dalam hal sumber air, sehingga daerah Kepanjen hampir tidak pernah kekeringan. Sumber air terbesar di Kepanjen salah satunya adalah "Sumber di Metro". Karena sumber Metro merupakan sumber yang memencarkan air besar maka pada akhir-akhir penjajahan Belanda difungsikan menjadi Kolam Renang (Pemandian). 

Kolam renang Metro memiliki air yang jernih dan bersih, sehingga  pengunjung lokal sering sekali datang ke pemandian, menurut informasinya, jika pengunjung selesai berenang di pemandian Metro badan terasa segar dan kulit tidak gatal-gatal. Kolam metro adalah kolam pemandian atau kolam renang yang luas dibangun Belanda setelah membuat jembatan penghubung Malang - Blitar diatas sungai Metro  Sukun Kepanjen. 

Kalau kita lihat foto diatas, diperkirakan sumber Metro tersebut berada di tebing sebelah  pohon besar dan semak-semak. Penduduk sekitar dusun Sukun-Kepanjen pada jaman itu kalau mandi di sumber Metro, air dari sumber-kucur mengalir melalui sela-sela bebatuan menuju parit kecil disebelah barat sumber digunakan untuk mandi kerbau lalu mengalir menuju ke sungai Metro  yang letaknya di bawah tebing sebelah barat. 

Menurut kajian resmi telah memprediksi bahwa di pulau Jawa bakal kehilangan hampir seluruh sumber air pada tahun 2040 jika tidak dirawat dengan benar. Hal ini adalah salah satu alasan penduduk Kepanjen dan pemerintah yang selalu merawat lingkungannya dengan benar.







Timur Pasar Kepanjen tahun 1941



Pasar Kepanjen Malang diera sebelum merdeka pemerintah penjajah Belanda telah membuat area pasar baru tersebut dibagi dua fungsi pasar yakni :
disebelah barat digunakan sebagai pasar kering dan disebelah timur. 

Untuk pasar yang bersebelah timur dibangun warung-warung yang semi permanen, misalkan : penjual pisang, penjual sayur-mayur, penjual ikan laut, penjual kelapa, penjual buah-buahan dan lain-lain. Selain digunakankan untuk menjual barang-barang basah juga  digunakan sebagai terminal oplet menurunkan dan menaikan penumpang dan dipojok timur pasar juga tesedia pom bensin seperti yang ada di foto. Suasana timur pasar ini agak semrawut kadang ada sapi yang lewat, mobil oplet menurunkan/mengangkut penumpang.

Lengkap sudah dengan pindahnya pasar hewan yang dulu di Koplaan sebelah timur pendopo Kawedanan, pertigaan Penarukan Kepanjen, telah membuat timur pasar kepanjen semakin ramai dan kalau musim hujan becek. 
he he he kadang bau tai hewan sapi atau kambing. 

Pasar Kepanjen tahun 1932




Foto di atas menampilkan Pasar Kepanjen Malang, sebuah bangunan berarsitektur Belanda yang berlokasi di tepi jalan raya Malang-Blitar, sekarang berada di Jalan Ahmad Yani Kepanjen Malang. Meskipun telah mengalami perubahan wajah, pasar besar ini masih menjadi pusat ramainya kegiatan jual-beli dengan banyak penjual dan pembeli.

Pembangunan pasar besar Kepanjen dimulai sekitar awal tahun 1980-an. Bangunan depan pasar diubah menjadi ruko permanen yang memanjang, sementara bagian tengah pasar diubah menjadi ruko pasar kering. Meskipun hanya separuh bangunan pasar yang mengalami perubahan, pasar ini tetap berfungsi sebagai pusat perdagangan yang penting.

Di foto ini, diperkirakan dibuat pada tahun 1930-an, karena kondisi pasarnya masih terlihat bersih dan belum begitu ramai. Hal ini mungkin disebabkan oleh masih berfungsinya "pasar lawas Sawunggaling". Di depan ruko-ruko, terlihat banyak kendaraan dokar berjejer. Dokar adalah kendaraan transportasi yang populer pada saat itu, dengan jalur-jalur seperti Kepanjen-Sengguruh, Kepanjen-Pakisaji, dan Kepanjen-Penarukan. Baru pada tahun 1940-an, kendaraan oplet mulai muncul di pasar sebelah timur.




foto : 1919/Universiteit Leiden, Nederland/agung cw




Pasar Sawunggaling tahun 1955

Pasar Lawas Sawunggaling 
(pasar penampungan sementara Kepanjen)

Pasar sawunggaling sekarang berubah jadi masjid


Pasar tradisional adalah tempat di mana penjual dan pembeli bertemu untuk melakukan transaksi setelah melalui proses tawar-menawar harga. Biasanya terletak di tempat terbuka dan menyediakan berbagai macam bahan pokok keperluan rumah tangga.

Bangunan di pasar lawas Sawunggaling bersifat semi permanen, dan umumnya digunakan untuk berjualan aneka kue, pakaian, barang atau perabotan dapur, buah-buahan, sayuran, ikan, daging, dan lainnya. Meskipun demikian, penerangan di pasar tradisional ini seringkali hanya secukupnya, dan kebersihannya kadang kurang terjaga. Sampah yang berserakan dan bertumpuk di beberapa sudut pasar seringkali menimbulkan bau tak sedap. Akibatnya, saat hujan turun, pasar menjadi becek dan kotor.

Pasar penampungan Sawunggaling adalah hasil pemindahan dari pasar Penarukan pada tahun 1900, saat masih berupa Lapangan Kepanjen. Pemindahan ini dilakukan karena adanya pembangunan sungai irigasi. Pada tahun 1930, pasar lawas ini kemudian dipindahkan ke pasar besar Kepanjen yang sekarang.



foto :1923/agung cw

STASIUN JAGALAN tahun1914

Stasiun Pertama yang dibuka 
adalah jalur Jagalan ke Bululawang



Di masa lalu, stasiun tram berlokasi di sekitar Jagalan, dekat dengan kantor NV Malang Stoomtrammaatschappij (MSM) di jalan Halmahera. Sisa-sisa jalur tram ini bahkan masih terlihat di wilayah Jagalan saat ini. Jalur tram tersebut dibangun di jalan-jalan utama kota Malang, memudahkan akses transportasi ke berbagai penjuru Malang Raya. Awalnya, jalur pertama dibuka dari Jagalan ke Stasiun Bululawang, dan kemudian berkembang ke berbagai jalur lainnya menuju stasiun Gondanglegi, Talok, Dampit, Kepanjen, Tumpang, Singosari, Blimbing, dan Sedayu.



foto : kepanjenonline.blogspot.com/agung cw

STASIUN SINGOSARI tahun 1918



Stasiun Singosari (SGS) adalah sebuah stasiun kereta api kelas III/kecil yang berlokasi di Pagentan, Singosari, Malang. Terletak tidak jauh dari jalan utama Malang-Surabaya, stasiun ini berada pada ketinggian +487 meter dan masuk dalam Daerah Operasi VIII Surabaya. Dengan tiga jalur kereta api, jalur 2 berfungsi sebagai sepur lurus.

Perlu diperhatikan bahwa stasiun ini berbeda dengan Stasiun Singosari MS. Stasiun Singosari MS, yang terletak di sebelah timur Jalan Raya Malang–Surabaya, di utara Pasar Singosari, dulunya merupakan stasiun trem yang tidak aktif lagi sejak 1978. Dahulu, stasiun ini menjadi titik perpotongan jalur trem menuju Stasiun Jagalan, namun jalur tersebut kini sudah tidak ada lagi. Lokasinya berdekatan dengan perlintasan sebidang Jalan Raya Malang–Surabaya.


STASIUN GONDANGLEGI tahun 1918

Hilangnya Trem 
kebijakan di bidang transportasi 
yang kurang berpihak pada angkutan massal berbasis rel


Saat ini, Kota Malang mulai merasakan dampak kemacetan yang semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan kepemilikan kendaraan pribadi roda dua maupun roda empat yang melampaui masa ketika trem masih beroperasi. Pada pagi dan sore hari saat jam berangkat dan pulang kerja, serta pada hari libur, kemacetan sangat terasa di beberapa titik di Kota Malang, seperti perempatan Blimbing, Embong Brantas, dan Jalan Semeru.

Melihat fakta sejarah bahwa pembangunan jaringan trem telah dilakukan sebelum kelahiran Kota Malang pada tahun 1914, tampaknya kota ini awalnya dirancang sebagai kota dengan sistem angkutan massal berbasis rel. Oleh karena itu, penghapusan trem dan pertumbuhan kepemilikan kendaraan pribadi tanpa pengendalian telah memicu kemacetan parah yang bisa diprediksi sejak saat ini.

Namun, satu masalah penting lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah terlantarinya aset-aset milik PT Kereta Api Indonesia Persero setelah penonaktifan trem di Malang. Menurut Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1959, Maskapai Trem Malang merupakan perusahaan milik Belanda yang telah dinasionalisasi, dan aset-asetnya kini menjadi milik PT Kereta Api Indonesia Persero. Ironisnya, banyak dari aset berharga ini tidak terurus, termasuk tanah di sepanjang jalur trem Malang yang memiliki nilai hingga lebih dari Rp 1,5 juta per meter persegi. Belum lagi, bangunan-bangunan seperti stasiun, gudang, dan rumah dinas yang memiliki nilai komersial juga dibiarkan terbengkalai.





STASIUN TREM BULULAWANG tahun 1940

 Stasiun Bululawang 
dikenal sebagai Stasiun Trem 



Stasiun Kereta Api Bululawang (BLL) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Bululawang, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya yang berada pada ketinggian ± 425 m di atas permukaan laut. Stasiun ini terletak di Jalan Stasiun RT. 18 RW. 05 Desa Bululawang, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Lokasi stasiun ini berada di sebelah timur Puskesmas Bululawang, atau timur laut Pasar Bululawang.

Bangunan Stasiun Bululawang ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel trem Malang-Bululawang-Gondanglegi sepanjang 23 kilometer. Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Malang Stoomtram Maatschappij (MSM) dimulai pada tahun 1897 dan selesai pada tahun 1898.


MSM adalah perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda yang dahulu mengoperasikan jalur trem di sekitar Kabupaten Malang. Perusahaan kereta api (Spoorwegmaatschappij) ini mendapat konsesi pada tahun 1894 dari Pemerintah Hindia Belanda untuk mengerjakan jaringan rel trem (tramwegnet). Konstruksi dilakukan dari tahun 1897 sampai dengan tahun 1908 dengan menghasilkan jalur rel trem sepanjang 85 kilometer.

Pada saat peresmian Stasiun Bululawang, stasiun ini dikenal sebagai Stasiun Trem MSM Bululawang. Trem yang beroperasi di jalur ini umumnya menggunakan lokomotif dengan tenaga kayu bakar. Makanya dulu, di Stasiun Bululawang ini senantiasa terdapat tumpukan kayu bakar yang dijadikan sebagai bahan bakar lokomotif untuk menarik rangkaian kereta.





Semula bangunan stasiun ini berukuran sekitar 20 m², akan tetapi sekarang bangunan tersebut tinggal tersisa sekitar 6 m². Stasiun ini ditutup (dienst gestaakt) secara resmi pada 1 Juli 1979. Alasan dihentikan layanannya karena semakin sepinya pengguna trem tersebut lantaran kalah bersaing dengan moda transportasi darat lainnya, seperti kendaraan umum maupun kendaraan pribadi pada waktu itu.

Jaringan rel trem yang pertama kali dibangun oleh MSM ini, semula ditujukan untuk mengangkut tebu dari perkebunan tebu yang banyak di temui di daerah Bululawang dan sekitarnya menuju ke pabrik gula (baca: PG Krebet) dan kemudian gulanya juga diangkut dengan trem untuk dikirim ke berbagai pelabuhan melalui stasiun yang lebih besar. Selain mengurusi pengiriman barang-barang hasil perkebunan yang ada di Malang, MSM juga melayani jasa pengngkutan penumpang.


STASIUN TREM DAMPIT tahun 1940

Stasiun Dampit 
kini berubah jadi rumah penduduk


Stasiun Dampit

  • Singkatan: DPT
  • Nomor: 5301
Lokasi
ProvinsiJawa Timur
KabupatenMalang
KecamatanDampit
KelurahanDampit
Sejarah
Dibuka14 Januari 1899
Ditutup1978
Informasi lain
OperatorDaerah Operasi VIII Surabaya
Kelas stasiun[1]II
Ketinggian+430 M
Letak[2]km 36+900 lintas Malang Jagalan-Malang Kotalama-Gondanglegi-Dampit
Layanan-

Stasiun Dampit (DPT) adalah stasiun kereta api nonaktif kelas II yang berada di Dampit, Dampit, Malang. Stasiun ini termasuk dalam Wilayah Aset VIII Surabaya serta merupakan stasiun kereta api yang lokasinya paling timur di Kabupaten Malang.

Dalam sejarahnya, stasiun yang berada pada ketinggian 430 meter diatas permukaan laut ini merupakan titik akhir dari jalur kereta api Malang–Gondanglegi–Dampit. Tujuan MS membangun jalur ini, agar kereta api mudah dijangkau rakyat pedesaan wilayah timur Malang.

Stasiun ini dibuka bersama dengan segmen Talok–Dampit pada tanggal 14 Januari 1899. Operasional angkutan barang di jalur ini didominasi oleh tebu dan gula dari Pabrik Gula Kebonagung dan Pabrik Gula Krebet. Selain itu, untuk penumpang sendiri didominasi kaum pedagang.

Jalur ini dinonaktifkan pada tahun 1978 untuk layanan umum karena kalah bersaing dengan mobil pribadi dan angkutan umum. Kini semua aset di jalur ini dikuasai oleh PT Kereta Api Indonesia. Emplasemen stasiun ini kini berubah menjadi rumah penduduk.


STASIUN TREM PAKIS tahun 1940

Stasiun Pakis Ditutup Lebih Dulu





Stasiun Pakis

  • Singkatan: PKS 1
  • Nomor: 5334
Lokasi
ProvinsiJawa Timur
KabupatenMalang
KecamatanPakis
DesaPakiskembar
AlamatJalan Raya Malang-Tumpang
Kode pos65154
Sejarah
Ditutup1968
Informasi lain
OperatorDaerah Operasi VIII Surabaya
Kelas stasiun[1]III/kecil
Letak[2]km 8+650 lintas Blimbing-Tumpang
Layanan-
Stasiun Pakis adalah stasiun trem nonaktif kelas III/kecil yang terletak di Pakiskembar, Pakis, Malang. Stasiun ini termasuk dalam Wilayah Aset VIII Surabaya.

Dalam sejarahnya, stasiun ini dibangun oleh Malang Stoomtram Maatschappij (MS), bersamaan dengan pembangunan jalur trem Blimbing–Tumpang. Jalur ini difungsikan untuk menghubungkan daerah Tumpang dengan Blimbing, Malang yang saat itu sukar diakses menggunakan moda jalan raya. Pembangunan jalur ini sepaket dengan jalur Blimbing–Singosari, dibuka pada tanggal 27 April 1901.

Stasiun Blimbing menjadi stasiun antarmoda dengan kereta api rel berat milik Staatsspoorwegen untuk jalur ini

Jalur ini ditutup lebih awal, yaitu pada tahun 1968 karena akses jalan menuju Blimbing yang semakin mudah tanpa perlu trem lagi. Kini seluruh aset di jalur kereta api ini dikuasai oleh PT Kereta Api Indonesia. Bangunan kini telah menjadi toko dus dan kantor bank perkreditan rakyat.




foto : 1919/wikipedia.org/agung cw



Klik untuk lihat lainya ...




STASIUN POHGADJIH tahun 1918

Pembangunan jalur rel 
di depan Stasiun Poh gajih. 

foto : 1918/wikimedia.org/agung cw


Stasiun ini masih aktif hingga sekarang dengan beberapa perjalanan Kereta Api Penataran berhenti di stasiun ini. Suara gemuruh mesin kereta dan suara riuh rendah penumpang memenuhi peron saat kereta tiba, menandai kehidupan yang terus berjalan di stasiun yang bersejarah ini.




Dua Jembatan arah Dampit terdapat Jembatan Trem dan Jembatan Umum



Jalur Dampit yang terkenal memiliki medan sulit oleh Belanda bisa diwujudkan
membangun dua jembatan yang panjang untuk digunakan menyeberangi 
sungai Lesti di Talok menujuh ke Dampit




foto : 14 Januari 1910 /Universiteit Leiden, Nederland/agung cw



STASIUN TREM GONDANGLEGI tahun 1940

Stasiun Gondanglegi 
dipersimpangan jalan



Stasiun Gondanglegi (GDL) adalah sebuah stasiun kereta api nonaktif kelas II yang terletak di Gondanglegi Wetan, Gondanglegi, Malang. Stasiun ini dahulu merupakan pusat sibuk angkutan penumpang dan barang karena menjadi titik percabangan jalur dari Malang ke Dampit dan Kepanjen. Sejarahnya terkait dengan pembangunan segmen pertama jalur kereta api Malang–Dampit oleh NV Malang Stoomtram Maatschappij (MS), yang bertujuan memudahkan akses kereta api bagi penduduk pedesaan di wilayah timur Malang.

Dibuka bersama dengan segmen Bululawang–Gondanglegi pada tanggal 4 Februari 1898, stasiun ini menjadi jalur utama angkutan barang, terutama tebu dan gula dari Pabrik Gula Kebonagung dan Pabrik Gula Krebet. Sementara itu, penumpang yang menggunakan stasiun ini sebagian besar adalah para pedagang.

Dengan Kepanjen sebagai pusat keramaian kedua di Malang Raya setelah Kota Malang, MS kemudian mengembangkan jalur kereta api ke arah tersebut. Namun, jalur ini dinonaktifkan pada tahun 1943 selama pendudukan Jepang di Indonesia. Meskipun demikian, sejarah jalur ini tetap tercatat dalam Buku Jarak, meskipun tidak tercantum dalam inventaris PT Kereta Api Indonesia.

Stasiun Gondanglegi akhirnya dinonaktifkan untuk layanan umum pada tahun 1978 karena persaingan yang kalah dengan mobil pribadi dan angkutan umum. Saat ini, semua aset di jalur ini dikuasai oleh PT Kereta Api Indonesia.





foto : 1919/Universiteit Leiden, Nederland/agung cw



LORI LEWAT TENGAH KOTA MALANG tahun 1939

Lori Tebu 
lewat tengah kota Malang


Traksi ganda MS23 dan MS24 melintas tengah kota Malang di kawasan Kajoetangan pada 26 Juni 1939. Saat itu dikeluarkan peraturan membunyikan peluit lokomotif terus-menerus untuk memberi tanda bahwa ada trem uap yang lewat



Foto : 1936/KITLV/agung cw