Pasar Besar Kepanjen Malang, berdiri 1926

Berada di jalan raya Malang-Blitar, tepatnya di jl. Pahlawan Kepanjen

Pasar Besar Kepanjen sebelah Timur

Digunakan sebagai tempat terminal penumpang Oplet, pasar hewan dan pom bensin.

KARNAFAL MALAM TEMA SENI-BUDAYA

Dalam memperingati HUT RI KE 7 TAHUN 1952.

Kantor polisi 1948

Kantor Polisi berubah fungsi sekarang menjadi KANTOR KELURAHAN KEPANJEN

BUPATI MALANG KE - 9 -

Mas Ngabehi Soentoro
menjabat 1950-1958


BUPATI MALANG KE - 6 -

( menjabat tahun 1898-1934 )


Di bawah kepemimpinan Bupati Suryo, Kabupaten Malang mengalami transformasi yang luar biasa. Beliau diakui sebagai bupati yang paling berpengalaman, dan tidaklah mengherankan mengingat keberhasilannya menghadapi berbagai perubahan penting dalam sejarah.

Saat diberlakukannya Undang-Undang Desentralisasi pada tahun 1903, Bupati Suryo bersama Asisten Residen Malang dan Dewan Wilayah memainkan peran kunci dalam persiapan untuk mengubah kawedanan kota menjadi kotamadya, sebuah langkah penting yang baru terwujud pada tahun 1914. Inisiatif ini menunjukkan kecakapan dan visi beliau dalam memimpin wilayahnya menuju masa depan yang lebih modern dan terorganisir.

Tidak hanya itu, Bupati Suryo juga dikenal karena upayanya dalam merenovasi dan mempercantik alun-alun serta Masjid Jamik Kota Malang. Tindakan ini tidak hanya sekadar penataan fisik, tetapi juga mencerminkan komitmen beliau dalam memperkuat identitas dan kehidupan sosial masyarakat setempat.

Namun, pada tahun 1934, Bupati Suryo kemudian digantikan oleh Raden Adipati Ariosam hingga kedatangan pemerintahan Jepang di Malang pada tahun 1942. Di bawah pemerintahan Jepang, Bupati RAA Sam diangkat sebagai Malang Syucokan yang juga menjabat sebagai Kenco dan Syico, menunjukkan penghargaan atas kepemimpinan dan kualitas beliau dalam mengelola wilayah tersebut.

Melalui perjalanan kepemimpinan Bupati Suryo dan para penggantinya, Kabupaten Malang terus mengalami perkembangan yang signifikan, menciptakan landasan yang kuat untuk masa depan yang lebih baik bagi penduduknya. Kiprah mereka tidak hanya meninggalkan jejak dalam sejarah lokal, tetapi juga memberikan inspirasi bagi para pemimpin di masa mendatang untuk meneruskan perjuangan dalam memajukan daerah mereka.

BUPATI MALANG KE - 5 -




Catatan Sejarah :
Pada zaman pemerintahan Adipati Raden Tumenggung Ario Notodiningrat, wilayah Kadipaten Malang sudah terbentuk menjadi 6 wilayah Distrik. Kepala Distrik atau Kepala Kawedanan menjadi sosok penting dalam menjaga ketertiban dan kemajuan di setiap wilayah.

Diantara kawedanan yang ada, terdapat :
  1. Distrik Ngantang yang dikenal dengan keindahan alamnya, Distrik Penanggoengan yang kaya akan sumber daya alam, 
  2. Distrik Karanglo yang terkenal dengan pertanian yang subur, 
  3. Distrik Pakis yang menjadi pusat aktivitas perdagangan, 
  4. Distrik Malang yang merupakan pusat kegiatan ekonomi dan administrasi. 
  5. Distrik Gondanglegi yang masih dipenuhi oleh hutan belantara, menjadi wilayah yang menantang untuk ditembus.
Namun, masa itu juga menyaksikan perluasan wilayah Kadipaten Malang di bawah kepemimpinan seorang bupati yang gigih dan visioner. Wilayah Malang Selatan menjadi perhatian utama, dan 
  1. Pada tahun 1886, Distrik Sengguruh menjadi bagian dari Kadipaten Malang, 
  2. Pada tahun 1887. disusul  Distrik Toeren
Perluasan wilayah ini tidak hanya sekadar menandai pertumbuhan geografis, tetapi juga mencerminkan semangat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memperluas cakrawala pemerintahan. Di tengah-tengah perkembangan ini, wilayah Kabupaten Malang semakin memperkuat posisinya sebagai pusat kegiatan ekonomi, sosial, dan politik yang penting di Jawa Timur.

Dengan perluasan wilayahnya, Kabupaten Malang semakin meneguhkan jejaknya dalam lembaran sejarah, sebagai tempat di mana berbagai peristiwa bersejarah terjadi dan berkembang, menciptakan fondasi bagi masa depan.

BUPATI MALANG PERTAMA -1-






Sawah Produktif Kepanjen tahun 1941

Sawah  Produktif  di Kepanjen diera penjajah. 
ternyata berada ditepi sungai


Di sebuah desa kecil di Kabupaten Malang, tepatnya di Kepanjen, terletak sebuah ladang subur yang dikelilingi oleh pegunungan hijau yang mempesona. Ladang itu menjadi tempat bagi para petani untuk menanam padi, tanaman yang menjadi kebanggaan daerah Kepanjen. Di sana, tradisi bertani telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Masyarakat setempat telah lama mengenal keindahan dan potensi ladang-ladang padi mereka. Mereka mengerti bahwa pertanian adalah tulang punggung ekonomi mereka, dan bahwa setiap tangkai padi yang tumbuh di tanah mereka adalah anugerah yang harus dijaga dengan baik.

Indonesia, sebagai negara agraris, telah memberikan penekanan khusus pada pertanian. Namun, salah satu lumbung padi terbesar terletak di Kepanjen. Di sinilah, para petani bekerja keras setiap hari, mengolah tanah mereka dengan penuh semangat dan dedikasi.

Namun, mereka sadar bahwa untuk menjaga produktivitas dan menghadapi tantangan yang terus berkembang, mereka membutuhkan bantuan dan pembinaan. Pemerintah setempat dan berbagai lembaga telah memberikan dukungan dalam bentuk bantuan teknis dan finansial untuk membantu petani memacu semangat bertani mereka.

Dengan bantuan dan pembinaan yang diberikan, para petani di Kepanjen semakin termotivasi untuk meningkatkan produktivitas mereka. Mereka memanfaatkan teknologi modern dan pengetahuan yang mereka peroleh untuk mengoptimalkan hasil panen mereka, menjadikan ladang-ladang padi mereka menjadi salah satu yang terbaik di seluruh Kabupaten Malang.

Dengan semangat yang terus berkobar, ladang-ladang di Kepanjen terus menjadi sumber kebanggaan bagi masyarakat setempat dan menyumbang secara signifikan pada ketahanan pangan daerah Kepanjen secara keseluruhan.